Kamis, 4 Juni 2026

Membangun Spirit Kolaboratif Lewat Pesantren Kilat Masa Kini

- Sabtu, 25 Oktober 2025 | 15:55 WIB
Santri muda bekerja sama menyiapkan buka bersama di pesantren kilat modern — simbol kolaborasi dan gotong royong generasi baru. (Foto/Ilustrasi)
Santri muda bekerja sama menyiapkan buka bersama di pesantren kilat modern — simbol kolaborasi dan gotong royong generasi baru. (Foto/Ilustrasi)

IFA.id - Pernah menyaksikan sekumpulan remaja yang biasanya sibuk dengan ponsel tiba-tiba jadi begitu kompak membersihkan masjid, menyiapkan buka bersama, atau mengatur lomba dakwah kecil-kecilan?

Itulah pemandangan khas pesantren kilat masa kini—di mana kolaborasi bukan sekadar teori, tapi hidup di antara tawa, doa, dan semangat kebersamaan.

IFA.id mencatat, dalam beberapa tahun terakhir, pesantren kilat telah bertransformasi menjadi wadah dinamis yang menanamkan nilai kolaboratif di tengah arus individualisme digital.

Bukan hanya hafalan ayat, tapi juga latihan empati, kepemimpinan, dan gotong royong lintas latar belakang.

Baca Juga: Pesantren Kilat dan Revolusi Karakter: Dari Gadget ke Gairah Iman

Dulu, pesantren kilat sering identik dengan kegiatan ceramah pasif: duduk, mendengar, mencatat. Tapi kini, banyak pesantren yang menata ulang konsepnya agar lebih partisipatif. Santri tak hanya mendengar, tapi juga berperan aktif dalam simulasi, diskusi, hingga proyek sosial mini.

Di Pondok Pesantren Darul Hikmah, misalnya, peserta pesantren kilat Ramadan 2024 diminta membentuk tim kecil membuat proyek “Masjid Ramah Anak.”

Mereka harus bekerja sama membuat ide, mencari dana kecil, dan mempresentasikan rencana ke ustaz pembimbing. Hasilnya? Tak hanya tuntas, tapi juga menular. Banyak masjid sekitar meniru konsep tersebut.

“Tujuannya bukan sekadar ajar teori ukhuwah, tapi benar-benar melatih gotong royong dalam aksi,” ujar Ustaz Rahmat, penggagas program itu, saat diwawancarai IFA.id.

Baca Juga: Mengapa Pesantren Kilat Selalu Dirindukan? Jawabannya di Sini

Zaman sekarang, banyak anak muda tumbuh dengan budaya serba personal akun pribadi, konten personal, pencapaian individual.

Pesantren kilat hadir untuk menyeimbangkan hal itu. Di sini, kolaborasi bukan paksaan, melainkan kesadaran spiritual bahwa kebaikan sering kali lahir dari kerja bersama.

IFA.id mencatat fenomena menarik: di pesantren kilat urban seperti yang digelar oleh komunitas Youth Dakwah Movement di Jakarta Selatan, para peserta tak hanya belajar tafsir, tapi juga berkolaborasi membuat konten dakwah digital.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X