IFA.id - Pernahkah terpikir, mengapa sesuatu yang jelas-jelas disebut “dosa besar” dalam Al-Qur’an justru dianggap biasa saja di kehidupan modern?
Riba, praktik yang diharamkan tegas oleh Allah, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem ekonomi hari ini. Dari kartu kredit, pinjaman daring, hingga cicilan rumah, hampir semua terasa “mustahil” tanpa bunga.
Namun di balik normalisasi itu, ada kisah panjang tentang bagaimana manusia mulai kehilangan sensitivitas terhadap ketidakadilan ekonomi yang tersembunyi di balik riba.
IFA.id mencoba menelusuri akar persoalan ini bukan hanya dari sisi agama, tapi juga dari aspek sosial dan spiritual yang lebih dalam.
Baca Juga: Dari Ketenangan ke Kehancuran: Bahaya Riba dalam Hidup Sehari-hari
Riba: Dosa yang Disetarakan dengan Perang Melawan Allah
Larangan riba bukan sekadar anjuran moral. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 278–279, Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakannya, ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu…”
Kerasnya kalimat “Allah memerangimu” menunjukkan betapa seriusnya dosa riba. Tak banyak dosa lain yang digambarkan seberat ini. Bahkan zina, mencuri, atau mabuk tidak disandingkan dengan “perang melawan Allah”.
Lalu pertanyaannya, mengapa peringatan sekeras ini tak lagi menakutkan? Jawabannya bisa jadi karena riba kini dibungkus rapi dengan istilah yang lebih halus: “bunga”, “margin”, atau “biaya administrasi”.
Baca Juga: Riba dan Krisis Keuangan: Bukti Nyata Kebijaksanaan Islam
Ketika Normalisasi Riba Menjadi Budaya
IFA.id mencatat, sejak abad ke-20, sistem ekonomi kapitalis telah menormalisasi bunga sebagai “biaya wajar” atas pinjaman. Media, pendidikan, bahkan lembaga keuangan besar turut mempopulerkan pandangan bahwa bunga adalah bagian alami dari bisnis.