IFA.id – Pernahkah dunia belajar dari luka yang sama berulang kali? Setiap kali ekonomi global goyah entah karena krisis subprime mortgage di 2008, krisis utang Eropa, hingga inflasi tinggi pasca-pandemi selalu ada benang merah yang sulit diabaikan: riba dan sistem bunga berlebihan yang menjadi biangnya.
Islam sudah memperingatkan bahaya ini berabad-abad lalu. Tapi manusia sering kali baru sadar setelah segalanya runtuh.
Awal Mula Krisis: Ketika Uang Tak Lagi Bernilai Moral
Riba bukan sekadar soal bunga pinjaman. Ia adalah cermin dari keserakahan yang dibungkus rapi oleh sistem ekonomi modern.
Ketika uang bisa “melahirkan uang” tanpa kerja nyata, maka ketimpangan hanya tinggal menunggu waktu.
Baca Juga: Mengapa Riba Diharamkan? Inilah Alasan Ilmiah dan Spiritualnya
Mari tengok kembali sejarah. Tahun 2008, dunia terperangah ketika sistem keuangan Amerika Serikat ambruk akibat subprime mortgage kredit perumahan berisiko tinggi.
Bank-bank memberi pinjaman kepada masyarakat yang tak mampu membayar, demi mengejar bunga dan keuntungan cepat. Saat utang macet menumpuk, efek domino mengguncang seluruh dunia.
Ribuan orang kehilangan rumah, jutaan kehilangan pekerjaan, dan triliunan dolar lenyap hanya dalam hitungan minggu.
Di titik itu, dunia baru sadar bahwa ekonomi tanpa moral adalah bom waktu. Sebaliknya, Islam sejak awal sudah menanam prinsip bahwa uang harus berputar di sektor riil, bukan menjadi alat eksploitasi lewat bunga.
Baca Juga: Beda Riba, Bunga, dan Investasi Halal: Panduan Bijak untuk Muslim Modern
Pandangan Islam: Larangan yang Penuh Hikmah
Larangan riba bukan sekadar dogma, tapi sistem perlindungan sosial.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)
Artikel Terkait
Tangan yang Memberi Lebih Mulia: Spirit Sedekah dalam Kehidupan
Senyum yang Bernilai Surga: Kekuatan Kecil dalam Berbuat Baik
Menebar Senyum, Menebar Pahala
Mengapa Pesantren Kilat Selalu Dirindukan? Jawabannya di Sini