Sebaliknya, ketika ekonomi dibangun di atas prinsip keadilan, transparansi, dan keberkahan, maka kestabilan menjadi buah alami.
Islam bukan anti-kemajuan, tapi anti-ketidakadilan. Larangan riba bukan penghalang kreativitas ekonomi, melainkan pagar agar manusia tidak terperosok ke jurang keserakahan.
Mungkin inilah saatnya dunia modern kembali menengok pesan lama yang disampaikan Nabi Muhammad SAW: “Riba memiliki tujuh puluh tiga pintu dosa, yang paling ringan seperti berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (HR. Ibnu Majah)
Baca Juga: Kebaikan di Tengah Dunia yang Sibuk
Keras? Ya. Tapi di balik ketegasan itu, tersimpan kasih sayang Tuhan agar manusia tak saling memakan satu sama lain dalam sistem yang menindas.
Riba dan Krisis, Dua Luka dari Sumber yang Sama
IFA.id merangkum, bahwa setiap krisis besar dalam sejarah modern mengajarkan hal serupa: ketika manusia bermain-main dengan sistem berbunga, maka keseimbangan sosial akan goyah.
Riba mungkin tampak menguntungkan sesaat, tapi ia menciptakan rantai ketimpangan panjang.
Sebaliknya, ekonomi syariah menawarkan jalan tengah: tumbuh bersama, untung bersama, dan berkah bersama.
Bukan sekadar solusi ekonomi, tapi juga jalan spiritual untuk kembali memahami hakikat keadilan.
Baca Juga: Pesantren Kilat dan Revolusi Karakter: Dari Gadget ke Gairah Iman
Artikel Terkait
Tangan yang Memberi Lebih Mulia: Spirit Sedekah dalam Kehidupan
Senyum yang Bernilai Surga: Kekuatan Kecil dalam Berbuat Baik
Menebar Senyum, Menebar Pahala
Mengapa Pesantren Kilat Selalu Dirindukan? Jawabannya di Sini