IFA.id - Pernahkah seseorang merasa hidupnya tenang setelah berhutang dengan bunga? Mungkin di awal terasa ringan, tapi perlahan segalanya berubah:
tidur tak nyenyak, rezeki terasa seret, dan hati penuh resah. Itulah awal dari cerita yang tampak kecil, namun berujung pada jurang besar bernama riba.
IFA.id mencatat, riba bukan hanya istilah dalam kitab suci, tapi fenomena nyata yang menggerogoti banyak lapisan masyarakat modern.
Mulai dari karyawan yang terlilit cicilan kartu kredit, pedagang kecil yang terjerat pinjaman online, hingga negara yang bergantung pada utang berbunga tinggi.
Semua berawal dari keinginan mencari ketenangan instan, namun berakhir pada kehancuran finansial dan spiritual.
Baca Juga: Riba dan Krisis Keuangan: Bukti Nyata Kebijaksanaan Islam
Riba: Dosa Besar yang Dianggap Biasa
Dalam Islam, riba adalah salah satu dosa besar yang disebut secara tegas dalam Al-Qur’an. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 275: “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran gila.”
Ayat ini bukan sekadar ancaman metaforis. Para ulama menjelaskan bahwa mereka yang hidup dengan riba akan kehilangan ketenangan batin dan arah hidup. Tubuh mungkin sehat, tapi jiwanya selalu gelisah.
Namun ironisnya, di zaman modern, riba telah berubah wajah. Ia tampil rapi, legal, dan bahkan dianggap bagian dari kemajuan ekonomi.
Riba dalam Kehidupan Modern
IFA.id menelusuri sejumlah kisah nyata tentang mereka yang terjerat sistem riba tanpa sadar. Salah satunya adalah kisah Dini, seorang pegawai swasta di Jakarta.
Baca Juga: Mengapa Riba Diharamkan? Inilah Alasan Ilmiah dan Spiritualnya
Artikel Terkait
Menebar Senyum, Menebar Pahala
Mengapa Pesantren Kilat Selalu Dirindukan? Jawabannya di Sini
Pesantren Kilat dan Revolusi Karakter: Dari Gadget ke Gairah Iman