Kamis, 4 Juni 2026

Dari Ketenangan ke Kehancuran: Bahaya Riba dalam Hidup Sehari-hari

- Senin, 27 Oktober 2025 | 12:41 WIB
Riba menjanjikan kemudahan sementara, tapi menyisakan beban panjang. Pilihlah keberkahan, bukan bunga yang menjerat. (Foto/Ilustrasi)
Riba menjanjikan kemudahan sementara, tapi menyisakan beban panjang. Pilihlah keberkahan, bukan bunga yang menjerat. (Foto/Ilustrasi)

Kisah seperti Hadi membuktikan bahwa meninggalkan riba bukan berarti kehilangan kesempatan, justru membuka jalan menuju keberkahan. Banyak pelaku UMKM kini mulai beralih ke koperasi syariah dan lembaga keuangan tanpa bunga karena melihat hasil nyata dari sistem yang lebih adil.

Pesan Al-Qur’an yang Terlupakan

Larangan riba dalam Islam bukan sekadar aturan ekonomi, tapi seruan moral untuk menjaga keseimbangan sosial. Allah menegaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 278–279:

Baca Juga: Ikhlas dalam Kebaikan: Jalan Menuju Ketentraman Jiwa

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba yang belum dipungut, jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak melaksanakannya, ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.”

Ayat ini menggambarkan betapa seriusnya larangan tersebut. Bukan sekadar “tidak disukai,” tapi dianggap bentuk perlawanan terhadap hukum Allah.

Ketenangan atau Kehancuran?

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang mencari solusi instan terhadap masalah keuangan. Tapi Islam mengingatkan bahwa tidak semua yang cepat itu baik.

Riba mungkin menjanjikan kemudahan sesaat, namun di baliknya tersembunyi jerat panjang yang menghancurkan keseimbangan hidup.

Baca Juga: Membangun Spirit Kolaboratif Lewat Pesantren Kilat Masa Kini

IFA.id merangkum satu pesan penting:
Riba bukan sekadar angka dalam kontrak keuangan, tapi ujian moral bagi manusia.
Apakah rela menukar ketenangan jiwa dengan kesenangan sesaat?

Ketenangan sejati bukan datang dari pinjaman berbunga, tapi dari keyakinan bahwa rezeki yang halal, meski kecil, lebih membawa berkah dibanding harta melimpah yang penuh dosa.

Baca Juga: Kebaikan di Tengah Dunia yang Sibuk

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Menebar Senyum, Menebar Pahala

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X