Riba vs Keadilan Sosial
Dalam sistem riba, orang kaya semakin kaya karena keuntungan dijamin, sementara yang miskin makin terpuruk karena bunga terus menekan.
Baca Juga: Pesantren Kilat Kreatif: Belajar Agama Lewat Drama, Film, dan Podcast
Sebuah laporan dari World Inequality Database (2024) menunjukkan bahwa kesenjangan ekonomi di dunia semakin melebar karena sistem pinjaman berbunga tinggi yang menjerat kelas menengah ke bawah.
Islam datang membawa alternatif yang manusiawi: zakat, infak, sedekah, dan sistem ekonomi berbasis kerja sama. Semua berakar pada prinsip ta’awun—tolong menolong dalam kebaikan, bukan menindas demi keuntungan pribadi.
Riba dalam Keseharian: Tidak Hanya di Bank
Bahaya riba sering disalahpahami seolah hanya milik lembaga keuangan besar. Padahal, praktiknya bisa muncul dalam hal kecil:
-
Menjual barang dengan sistem kredit berbunga,
-
Pinjam uang dengan syarat pengembalian lebih,
-
Atau bahkan “uang jasa” dalam hutang pribadi.
IFA.id mengingatkan, hal-hal seperti ini perlu disadari sejak awal agar tidak terjerumus dalam praktik yang sama. Karena setiap tambahan dari hutang, yang disepakati di awal sebagai syarat, sudah termasuk dalam kategori riba menurut banyak ulama.
Baca Juga: Kebaikan yang Menular: Saat Hati Menjadi Sumber Inspirasi
Kisah Perubahan: Dari Riba ke Hidup Berkah
Salah satu kisah inspiratif datang dari Hadi, seorang pengusaha muda di Bandung. Setelah mengalami kebangkrutan akibat pinjaman berbunga, Hadi memutuskan berhenti dari sistem konvensional dan beralih ke pembiayaan syariah.
“Awalnya berat,” katanya, “tapi pelan-pelan rezeki jadi lebih tenang, usaha berkembang tanpa beban bunga.”
Artikel Terkait
Menebar Senyum, Menebar Pahala
Mengapa Pesantren Kilat Selalu Dirindukan? Jawabannya di Sini
Pesantren Kilat dan Revolusi Karakter: Dari Gadget ke Gairah Iman