Kamis, 4 Juni 2026

Sunnah Berbuka dengan Kurma, Apa Hikmahnya?

- Senin, 24 November 2025 | 12:35 WIB
Manisnya kurma, manisnya sunnah. Awali buka puasa dengan keberkahan yang diajarkan Rasulullah. (Foto/Ilustrasi)
Manisnya kurma, manisnya sunnah. Awali buka puasa dengan keberkahan yang diajarkan Rasulullah. (Foto/Ilustrasi)

 

IFA.id - Ada satu momen yang selalu diingat banyak muslim ketika Ramadan datang: suara azan magrib yang akhirnya terdengar setelah seharian menahan lapar, lalu tangan meraih sebutir kurma.

IFA.id sering menemukan cerita serupa dalam obrolan pembaca, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan dari ritual kecil itu. Tapi, di balik kesederhanaannya, sebenarnya apa hikmah dari sunnah berbuka dengan kurma? Mengapa Rasulullah begitu menekankannya?

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi semakin dalam ditelusuri, semakin terasa bahwa kurma bukan sekadar buah untuk memecah dahaga. Ada sejarah, nutrisi, bahkan filosofi batin yang menyertainya.

IFA.id merangkum semua itu dalam satu narasi panjang agar mudah dipahami siapa pun yang ingin mengenal sunnah berbuka dari sisi yang lebih manusiawi.

Baca Juga: Kurma Ajwa: Keistimewaan yang Disebut Nabi

Mengapa Kurma Menjadi Pilihan Utama dalam Sunnah Berbuka

Dalam banyak riwayat, Rasulullah mengajarkan untuk memulai berbuka dengan rutab (kurma basah), dan bila tidak ada, maka dengan tamr (kurma kering).

Bila keduanya tak ditemukan, barulah cukup dengan seteguk air. Ini menunjukkan bahwa urutannya bukan kebetulan, tetapi pilihan yang penuh makna.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, disebutkan bahwa Nabi berbuka sebelum salat dengan beberapa butir kurma.

IFA.id mencatat, pola ini bukan hanya soal ibadah, tetapi juga kesehatan, karena kurma memiliki gula alami yang mudah diserap tubuh. Setelah puasa panjang, tubuh membutuhkan energi cepat, dan kurma menyediakan itu dalam beberapa detik.

Baca Juga: Apakah Kurma Bisa Jadi Obat? Pandangan Islam

Nabi memilih yang paling ramah untuk tubuh, sekaligus paling menenangkan untuk jiwa.

Energi Cepat yang Ramah Tubuh

Jika diperhatikan, tubuh yang berpuasa selama belasan jam ada dalam kondisi sangat rendah glukosa. Bila langsung disuguhi hidangan berat, sistem pencernaan bekerja melambat dan kadang memicu pusing atau mual.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X