Meski manis, indeks glikemik kurma relatif stabil ketika dikonsumsi secukupnya.
5. Antioksidan alami
Membantu tubuh pulih dari stres metabolik.
Baca Juga: Tradisi Mulia: Kiai Ingatkan Pentingnya Bismillah Sejak Dini
Dengan manfaat sebesar itu, tidak mengherankan bila sunnah berbuka dengan kurma terasa semakin masuk akal dalam konteks modern.
Mengapa Tidak Dengan Makanan Lain?
Beberapa orang mungkin bertanya: mengapa tidak dengan buah lain? Apakah kurma memiliki keistimewaan mutlak? Dalam catatan IFA.id, jawabannya terletak pada kombinasi tiga hal: ketersediaan, makna religius, dan kesesuaian nutrisi.
Pada masa Nabi, kurma adalah buah paling mudah ditemukan. Sampai hari ini, kurma tetap menjadi simbol yang mengikat muslim di seluruh dunia. Dan dari sisi gizi, kurma menawarkan perpaduan energi cepat dan stabil, sesuatu yang sulit ditandingi buah manis lain.
Jadi, ini bukan hanya soal “buah apa”. Ini soal keberlanjutan tradisi yang memiliki fondasi kuat secara spiritual dan ilmiah.
Baca Juga: Bismillah Sebagai Tameng: Sunnah yang Menenangkan Jiwa
Berapa Banyak Kurma Saat Berbuka?
Meski tidak ada batasan khusus dalam fiqih, banyak ulama merekomendasikan jumlah yang sederhana: satu hingga tiga butir.
IFA.id menemukan bahwa pola ini sesuai dengan hikmah asalnya: sunnah berbuka bukan bagian dari makan besar, tetapi tahap pembuka sebelum salat magrib.
Tiga butir cukup untuk mengembalikan energi awal tanpa membuat kenyang berlebihan. Setelah salat, barulah makanan utama disantap dengan lebih tenang.
Bagaimana Jika Tidak Ada Kurma?
Artikel Terkait
Doa-doa Safar Sunnah Nabi yang Dibaca dalam Walimatu Safar
Makna Besar di Balik Bismillah: Muslim Diingatkan Tak Meremehkan Pembuka Amal
Rahasia Bismillah: Kalimat Pembuka yang Sering Diremehkan Umat Muslim