Di era serba cepat dan digital, banyak orang kehilangan arah karena terlalu fokus pada “tampilan hidup”. Semua diukur dari jumlah like, views, dan pencapaian yang bisa dilihat orang lain.
Baca Juga: Dari Kantor ke Masjid: Cerita Nyata Profesional yang Menemukan Makna Ibadah dalam Pekerjaan
Namun kebahagiaan sejati tidak lahir dari pengakuan, tapi dari ketenangan batin yang tumbuh ketika seseorang berdamai dengan dirinya sendiri dan Tuhannya.
IFA.id menemukan bahwa banyak generasi muda kini mulai kembali mencari makna — lewat journaling, refleksi malam, hingga puasa media sosial. Semua upaya itu sesungguhnya adalah panggilan hati untuk “pulang”.
Bekal di Jalan Pulang
Setiap perjalanan membutuhkan bekal. Dan bekal terbaik di jalan ini bukan uang atau status, melainkan iman, amal, dan hati yang tenang.
Allah berfirman dalam QS. Al-Kahfi: 46: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia, tetapi amal saleh yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”
Baca Juga: Ekonomi Tumbuh, Iman Tersentuh: Filosofi ‘Kerja adalah Ibadah’ Menyentuh Generasi Muda
IFA.id menekankan, dunia boleh dicintai, tapi jangan dijadikan pusat cinta. Sebab cinta yang terlalu dalam pada dunia sering kali membuat seseorang lupa pada keabadian.
Doa Jalan Pulang
Agar langkah di dunia tetap dalam arah yang benar, berikut doa yang bisa diamalkan:
اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ إِلَى النَّارِ مَصِيرَنَا
Allāhumma lā taj‘alid-dunyā akbara hamminā, walā mablagha ‘ilminā, walā ilā an-nāri maṣīranā.
Artinya:
“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan utama kami, jangan jadikan ilmu kami berhenti pada urusan dunia, dan jangan jadikan tempat kembali kami ke neraka.” (HR. Tirmidzi)
Baca Juga: Hujan, Cinta, dan Keajaiban Waktu: Cerita Kecil Tentang Doa yang Dikabulkan
Artikel Terkait
Bangun Pagi, Niat Suci: Begini Cara Menjadikan Pekerjaan Sebagai Ibadah
Dari Sawah ke Kota: Bagaimana Hujan Menjadi Sumber Kehidupan
Belajar Ikhlas dari Kematian: Saat Dunia Tak Lagi Menjadi Tujuan
Sementara di Dunia, Selamanya di Akhirat: Menata Arah Hidup
Jika Dunia Sementara, Mengapa Kita Tak Menjadi Lebih Tenang?