Kamis, 4 Juni 2026

Sementara di Dunia, Selamanya di Akhirat: Menata Arah Hidup

- Selasa, 4 November 2025 | 12:52 WIB
Setiap langkah di dunia hanyalah bagian dari perjalanan panjang menuju keabadian. Menata arah hidup berarti menapaki jalan menuju cahaya akhirat dengan hati yang tenang. (Foto/Ilustrasi)
Setiap langkah di dunia hanyalah bagian dari perjalanan panjang menuju keabadian. Menata arah hidup berarti menapaki jalan menuju cahaya akhirat dengan hati yang tenang. (Foto/Ilustrasi)

 

IFA.id - Ada satu momen yang sering membuat hati terdiam. Ketika menyaksikan kepergian seseorang yang dulu tertawa, bekerja, berlari bersama, tiba-tiba diam dalam balutan kain kafan putih. Di situ, semua ambisi terasa kecil, semua kesibukan seolah tak berarti.

IFA.id mencatat, dalam momen semacam itu, manusia biasanya baru sadar: hidup ini memang sementara.

Hidup: Antara Sementara dan Selamanya

Setiap detik yang dijalani sebenarnya bukan untuk menetap, tapi untuk bersiap. Dunia hanyalah tempat singgah, bukan rumah abadi. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dalamnya luar biasa. Banyak yang berlomba mengumpulkan harta, jabatan, dan pujian, seolah-olah semua itu bisa dibawa sampai liang lahat. Padahal, yang benar-benar tinggal hanyalah amal baik, keikhlasan, dan doa yang terus mengalir.

Baca Juga: Kenapa Hati Tak Pernah Puas? Karena Dunia Ini Bukan Rumah Sebenarnya

IFA.id merangkum dari berbagai ulama: dunia bukan musuh, tapi ujian. Ia tempat manusia menanam untuk dituai di akhirat. Maka yang penting bukan seberapa banyak yang dimiliki, tapi seberapa bermakna yang diberikan.

Menata Arah Hidup: Bukan Sekadar Sukses Duniawi

Banyak orang sukses di dunia tapi kosong di hati. Mereka sibuk mengejar sesuatu yang cepat hilang, lalu kehilangan sesuatu yang seharusnya dijaga: kedamaian.

Sukses sejati bukan ketika gaji naik atau nama dikenal, tapi ketika bisa tidur tenang tanpa menzalimi siapa pun. Ketika hati lapang meski tidak punya banyak, dan tetap bersyukur walau tak semua impian tercapai.

Dunia adalah panggung ujian, bukan panggung kemenangan. Jika salah menata arah, bisa jadi hidup habis untuk mengejar fatamorgana. Padahal, akhirat menunggu dengan keabadian yang tak pernah usai.

Baca Juga: Ketika Dunia Mulai Terasa Berat, Ingatlah Bahwa Semuanya Sementara

Belajar dari Mereka yang Menyadari Fana-nya Dunia

Ada kisah seorang saudagar tua di Surabaya yang dikenal dermawan. Saat sakit keras, ia memanggil anak-anaknya dan berkata, “Semua yang Ayah kumpulkan, ternyata tidak menemani Ayah ke kubur. Tapi satu hal yang Ayah bawa: sedekah kecil yang pernah membuat orang lain tersenyum.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X