IFA.id - Ada satu momen yang sering membuat hati terdiam. Ketika menyaksikan kepergian seseorang yang dulu tertawa, bekerja, berlari bersama, tiba-tiba diam dalam balutan kain kafan putih. Di situ, semua ambisi terasa kecil, semua kesibukan seolah tak berarti.
IFA.id mencatat, dalam momen semacam itu, manusia biasanya baru sadar: hidup ini memang sementara.
Hidup: Antara Sementara dan Selamanya
Setiap detik yang dijalani sebenarnya bukan untuk menetap, tapi untuk bersiap. Dunia hanyalah tempat singgah, bukan rumah abadi. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dalamnya luar biasa. Banyak yang berlomba mengumpulkan harta, jabatan, dan pujian, seolah-olah semua itu bisa dibawa sampai liang lahat. Padahal, yang benar-benar tinggal hanyalah amal baik, keikhlasan, dan doa yang terus mengalir.
Baca Juga: Kenapa Hati Tak Pernah Puas? Karena Dunia Ini Bukan Rumah Sebenarnya
IFA.id merangkum dari berbagai ulama: dunia bukan musuh, tapi ujian. Ia tempat manusia menanam untuk dituai di akhirat. Maka yang penting bukan seberapa banyak yang dimiliki, tapi seberapa bermakna yang diberikan.
Menata Arah Hidup: Bukan Sekadar Sukses Duniawi
Banyak orang sukses di dunia tapi kosong di hati. Mereka sibuk mengejar sesuatu yang cepat hilang, lalu kehilangan sesuatu yang seharusnya dijaga: kedamaian.
Sukses sejati bukan ketika gaji naik atau nama dikenal, tapi ketika bisa tidur tenang tanpa menzalimi siapa pun. Ketika hati lapang meski tidak punya banyak, dan tetap bersyukur walau tak semua impian tercapai.
Dunia adalah panggung ujian, bukan panggung kemenangan. Jika salah menata arah, bisa jadi hidup habis untuk mengejar fatamorgana. Padahal, akhirat menunggu dengan keabadian yang tak pernah usai.
Baca Juga: Ketika Dunia Mulai Terasa Berat, Ingatlah Bahwa Semuanya Sementara
Belajar dari Mereka yang Menyadari Fana-nya Dunia
Ada kisah seorang saudagar tua di Surabaya yang dikenal dermawan. Saat sakit keras, ia memanggil anak-anaknya dan berkata, “Semua yang Ayah kumpulkan, ternyata tidak menemani Ayah ke kubur. Tapi satu hal yang Ayah bawa: sedekah kecil yang pernah membuat orang lain tersenyum.”
Artikel Terkait
Bangun Pagi, Niat Suci: Begini Cara Menjadikan Pekerjaan Sebagai Ibadah
Dari Sawah ke Kota: Bagaimana Hujan Menjadi Sumber Kehidupan
Kerja Keras dengan Hati Lillah: Tren Baru Profesional Muslim di Era Digital
Hujan, Cinta, dan Keajaiban Waktu: Cerita Kecil Tentang Doa yang Dikabulkan
Ekonomi Tumbuh, Iman Tersentuh: Filosofi ‘Kerja adalah Ibadah’ Menyentuh Generasi Muda