Kamis, 4 Juni 2026

Ilmu Psikologi di Balik Sholat Dhuha: Rahasia Bahagia Setiap Pagi

- Sabtu, 11 Oktober 2025 | 16:18 WIB
Seorang muslim yang sedang menengadahkan tangan berdoa dalam sholat dhuha simbol kedamaian batin, keseimbangan jiwa, dan bahagia yang lahir dari kesadaran spiritual setiap pagi. (Foto/Ilustrasi)
Seorang muslim yang sedang menengadahkan tangan berdoa dalam sholat dhuha simbol kedamaian batin, keseimbangan jiwa, dan bahagia yang lahir dari kesadaran spiritual setiap pagi. (Foto/Ilustrasi)

Setiap gerakan sholat (takbir, rukuk, sujud) menstimulasi sistem saraf parasimpatik yang menenangkan detak jantung dan menurunkan kadar stres.

Dalam jurnal Journal of Behavioral Medicine (2018), disebutkan bahwa aktivitas spiritual dengan gerakan teratur dapat menurunkan hormon stres kortisol hingga 30%. Artinya, Sholat Dhuha adalah bentuk “spiritual mindfulness” paling sempurna gratis, terukur, dan bermakna.

Baca Juga: Rahasia Rezeki Lancar dari Sholat Dhuha yang Jarang Disadari

 

Psikologi modern mengajarkan konsep self-compassion, yaitu kemampuan untuk memahami dan memaafkan diri. Sholat Dhuha menumbuhkan itu secara alami.

Dalam doa dhuha, seseorang memohon: “Ya Allah, jika rezekiku berada di langit, turunkanlah; jika di bumi, keluarkanlah; jika jauh, dekatkanlah; jika haram, sucikanlah; jika sedikit, banyakkanlah.”

Kalimat itu bukan sekadar permohonan materi, tapi pengakuan jujur akan keterbatasan diri. Saat manusia berserah, ia belajar menerima proses, mengakui kelemahan, dan tetap berharap. Di sinilah konsep self-compassion bekerja keikhlasan yang justru menumbuhkan kebahagiaan.

 

Sebuah riset dari Harvard T.H. Chan School of Public Health (2020) menunjukkan bahwa praktik spiritual harian berhubungan dengan tingkat depresi lebih rendah, kualitas tidur lebih baik, dan emosi lebih stabil.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Orang yang Merasakan Perubahan Hidup lewat Puasa Senin Kamis

Ketika rutinitas pagi diisi dengan Sholat Dhuha, otak mulai mengenali pola: bahwa setiap hari dimulai dengan syukur, ketenangan, dan doa. Pola ini disebut “neuro-association habit” jaringan kebiasaan di otak yang memperkuat emosi positif.

Dengan kata lain, setiap kali seseorang menunaikan Dhuha, ia sedang menulis ulang pola pikirnya sendiri: dari terburu-buru menjadi tenang, dari cemas menjadi yakin, dari takut menjadi tawakal.

 

Selain aspek psikologis, Dhuha juga memberikan efek fisiologis nyata. Gerakan sholat mengaktifkan otot besar di tubuh bagian bawah, meningkatkan sirkulasi darah ke otak, dan menstimulasi sistem pernapasan.

Riset oleh International Journal of Yoga (2019) menunjukkan bahwa gerakan rukuk dan sujud menurunkan tekanan darah sekaligus meningkatkan fokus mental.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X