Kamis, 4 Juni 2026

Kualitas Internet Indonesia Masih Tertinggal di ASEAN, Tantangan Besar Digitalisasi Ekonomi Nasional

photo author
Alamanda K, Ifa.id
- Jumat, 4 Juli 2025 | 18:03 WIB
Ilustrasi Internet (Foto/Cmlabs)
Ilustrasi Internet (Foto/Cmlabs)

IFA.id – Kecepatan dan kualitas internet di Indonesia kembali menjadi sorotan utama di tengah upaya percepatan digitalisasi ekonomi nasional.

Meski infrastruktur digital terus berkembang, data terbaru menunjukkan Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Baca Juga: Produksi Matcha Jepang Menurun Akibat Gelombang Panas, Permintaan Global Melonjak

Peringkat dan Kecepatan Internet Indonesia di ASEAN
Berdasarkan laporan Speedtest Global Index per Maret 2025, kecepatan unduhan (download) internet mobile di Indonesia hanya mencapai 40,37 Mbps.

Angka ini menempatkan Indonesia di posisi paling bawah di antara negara-negara ASEAN, bahkan di bawah Kamboja dan Laos.

Berikut adalah perbandingan kecepatan internet mobile di Asia Tenggara:

  1. Malaysia: 169,04 Mbps (Peringkat Global: 13)
  2. Singapura: 164,20 Mbps (Peringkat Global: 15)
  3. Vietnam: 150,43 Mbps (Peringkat Global: 18)
  4. Thailand: 103,49 Mbps (Peringkat Global: 40)
  5. Filipina: 60,11 Mbps (Peringkat Global: 63)
  6. Kamboja: 49,54 Mbps (Peringkat Global: 74)
  7. Laos: 43,20 Mbps (Peringkat Global: 81)
  8. Indonesia: 40,37 Mbps (Peringkat Global: 83)

Sementara untuk kategori fixed broadband, Indonesia juga menempati posisi terakhir di ASEAN dengan kecepatan rata-rata hanya 33,51 Mbps, jauh di bawah Singapura yang mencapai 357,52 Mbps.

Baca Juga: Antam Ingin Kelola Lagi IUP yang Dicabut, ESDM Tegaskan Harus Lewat Lelang

Penyebab Ketertinggalan
Beberapa faktor utama yang menyebabkan lambatnya kecepatan internet di Indonesia antara lain:

  1. Infrastruktur belum merata: Jaringan internet berkualitas masih terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) masih minim akses.
  2. Implementasi 5G belum optimal: Latensi tinggi dan keterbatasan spektrum frekuensi membuat kecepatan internet belum bisa bersaing dengan negara tetangga.
  3. Tingginya latensi: Penggunaan 4G yang masih dominan menyebabkan latensi lebih tinggi dibandingkan 5G.
  4. Keterbatasan investasi dan kolaborasi: Pembangunan infrastruktur digital membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan investasi besar dari pemerintah maupun swasta.

Baca Juga: Panggilan untuk Penggemar! Pameran Doraemon Terbesar di Dunia Hadir di Bangkok Mulai Mei 2025

Dampak pada Digitalisasi Ekonomi
Kualitas internet yang masih tertinggal menjadi tantangan besar dalam mendorong transformasi digital nasional.

Internet berkecepatan tinggi sangat dibutuhkan untuk:

  1. Mendukung produktivitas UMKM dan startup digital.
  2. Memperluas akses pendidikan dan layanan kesehatan berbasis digital.
  3. Meningkatkan efisiensi sektor industri dan perdagangan.
  4. Mendorong inklusivitas keuangan dan pemerataan ekonomi digital ke seluruh pelosok negeri.

Baca Juga: CFA Society Indonesia Gelar Konferensi Investasi Kedua, Bahas Peran AI dalam Keuangan dan Investasi

Upaya Pemerintah dan Prospek ke Depan
Pemerintah Indonesia telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan internet, seperti:

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Ekonomi Syariah 5.0: Revolusi Halal di Era Digital

Kamis, 9 Oktober 2025 | 11:34 WIB

Terpopuler

X