IFA.id – Produksi matcha di Jepang mengalami penurunan signifikan pada tahun 2025 akibat gelombang panas ekstrem yang melanda wilayah penghasil teh utama, seperti Kyoto dan Uji.
Cuaca yang tidak menentu, termasuk suhu tinggi dan musim panas terpanas dalam sejarah Jepang, menyebabkan hasil panen daun teh tencha, bahan baku utama matcha, menyusut drastis.
Di sisi lain, permintaan global terhadap matcha terus melonjak, memicu kekhawatiran akan pasokan terbatas dan lonjakan harga di pasar dunia.
Dampak Gelombang Panas pada Produksi Matcha
Petani teh di Kyoto, yang menyumbang sekitar seperempat produksi tencha Jepang, melaporkan penurunan hasil panen hingga 25% dibandingkan tahun normal.
Gelombang panas merusak semak-semak teh, menyebabkan jumlah daun yang bisa dipetik jauh berkurang.
Suhu tinggi dan perubahan pola cuaca juga mempengaruhi kualitas daun teh, yang berdampak langsung pada rasa dan warna matcha premium.
Tanaman teh sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembapan, yang membuat cuaca ekstrem dapat menurunkan mutu produk akhir.
Baca Juga: DPR Katakan Biaya Pensiun Dini PLTU Cirebon 1 dan Suralaya Bisa Mencapai Rp25 Triliun
Selain faktor cuaca, krisis tenaga kerja di sektor pertanian Jepang memperburuk kondisi tersebut.
Rata-rata usia petani teh kini di atas 65 tahun, dengan regenerasi yang lambat, sehingga kapasitas produksi sulit ditingkatkan.
Permintaan Global Melonjak, Pasokan Terbatas
Permintaan matcha di pasar global, terutama di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia, melonjak tajam didorong oleh tren gaya hidup sehat dan popularitas matcha di kalangan milenial serta Gen Z.