IFA.id -- PT Timah Tbk (TINS) bersama MIND ID terus mempercepat hilirisasi mineral strategis nasional dengan mengembangkan logam tanah jarang (rare earth element/REE) di Tanjung Ular, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.
Langkah ini menjadi bagian penting dalam mendukung industrialisasi dan transisi energi nasional.
Pengembangan dilakukan melalui revitalisasi pilot plant pengolahan monasit—mineral ikutan dari penambangan timah—yang telah dibangun sejak 2010. Kini, fasilitas tersebut dioptimalkan sebagai bagian dari strategi industrialisasi REE dalam negeri.
Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, menyatakan bahwa REE terdiri dari 15 unsur, dengan unsur dominan antara lain cerium, lantanum, neodymium, dan praseodimium.
Baca Juga: Ary Ginanjar Apresiasi BPJPH: Perlindungan Produk Halal adalah Kedaulatan Perut Anak Bangsa
Dengan pengembangan REE ini, Indonesia diyakini mampu menjadi basis bagi pengembangan ekosistem industri strategis masa depan.
Direktur Pengembangan Usaha TIMAH, Dicky Octa Zahriadi, menegaskan bahwa fokus utama pada 2024 adalah pencarian mitra teknologi untuk mempercepat proses hilirisasi.
Untuk mendukung pengembangan teknologi pengolahan monasit, TIMAH bekerja sama dengan berbagai lembaga mitra teknologi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Baca Juga: IKA UII 2025–2030 Resmi Dilantik, Siap Lanjutkan Warisan Pendiri Bangsa
Dicky juga menyoroti potensi thorium yang terkandung dalam logam tanah jarang sebagai sumber energi alternatif. Rare earth mengandung thorium yang dapat dioptimalkan menjadi sumber energi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Dengan terus berupaya memanfaatkan potensi thorium dalam negeri, Indonesia dapat berkontribusi dalam meningkatkan nilai tambah dari pengolahan REE untuk mendorong kemandirian energi.
Meski telah dibangun sejak lebih dari satu dekade lalu, pengembangan pilot plant sempat menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan teknologi yang teruji serta minimnya mitra strategis.
Baca Juga: Indonesia dan AS Resmi Mulai Negosiasi Teknis Tarif Resiprokal
Namun, TIMAH menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan pilot plant sebagai tahapan awal validasi teknologi.
Artikel Terkait
Nasabah Bank Jatim Raih Hadiah Utama Rp500 Juta dalam Undian Tabungan Simpeda 2025
Pasar LCGC Indonesia Tertekan: Penjualan Maret 2025 Anjlok 38%
Indonesia dan AS Resmi Mulai Negosiasi Teknis Tarif Resiprokal
IKA UII 2025–2030 Resmi Dilantik, Siap Lanjutkan Warisan Pendiri Bangsa
Ary Ginanjar Apresiasi BPJPH: Perlindungan Produk Halal adalah Kedaulatan Perut Anak Bangsa