IFA.id - Di sudut kampung yang dulu hanya diisi suara ngaji selepas magrib, kini sinar layar laptop berpadu dengan lantunan ayat-ayat suci.
Pemandangan itu bukan hal asing di banyak pesantren modern saat ini. Tradisi dan teknologi berdampingan, seolah bersepakat untuk mencetak generasi santri yang tak hanya taat tapi juga tanggap zaman.
IFA.id mencatat, inilah wajah baru dunia pesantren: dari surau tradisional menuju smart boarding school.
Dulu, pesantren tumbuh dari kesederhanaan. Di beberapa daerah Jawa, banyak pesantren bermula di lumbung padi atau surau kecil di belakang rumah kiai.
Baca Juga: Kiai, Pesantren, dan Jalan Tengah: Menjaga Marwah Perjuangan Santri di Era Kebisingan
Santri mengaji kitab kuning di bawah cahaya lampu minyak, menulis catatan di buku lusuh, dan belajar hidup sederhana. Tapi kini, beberapa pesantren telah beralih menjadi pusat literasi digital. Akses internet tersedia di hampir setiap asrama, dan kitab kuning bisa diunduh dalam format PDF.
Namun, perubahan ini tak serta-merta menghapus nilai lama. Justru, ia memperluas makna ngaji: bukan hanya menelaah teks klasik, tapi juga belajar membaca realitas dunia yang semakin kompleks.
Santri kini belajar menulis konten islami di media sosial, membuat podcast dakwah, hingga mengelola website pesantren sendiri. Tradisi tak ditinggalkan, hanya berganti wadah.
Salah satu kisah menarik datang dari Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan. Lembaga ini sudah memiliki unit bisnis digital yang dikelola oleh santri. Mereka belajar coding setelah subuh dan tetap mengaji tafsir selepas isya.
Baca Juga: Santri Digital: Berdemo dengan Pena dan Doa, Bukan Hanya dengan Teriakan
Di pesantren lain, seperti Daarut Tauhiid dan Tebuireng, sistem pembelajaran digital mulai diperkenalkan untuk mendukung efisiensi belajar. Santri bisa mengakses pelajaran dari gawai, menyimak ceramah lewat platform daring, dan bahkan ikut kursus teknologi.
IFA.id melansir bahwa kolaborasi antara kitab kuning dan teknologi bukan sekadar tren, tapi kebutuhan. Dunia kerja kini menuntut santri yang melek digital tanpa kehilangan ruh spiritual. Maka, muncul istilah baru: santripreneur digital.
Perubahan terbesar bukan hanya pada fasilitas, tapi juga pada peran kiai. Jika dulu kiai dikenal sebagai pusat ilmu dan karisma spiritual, kini banyak kiai menjadi influencer dakwah. Mereka menggunakan media sosial untuk menyebarkan ajaran dengan gaya ringan dan visual menarik.
Instagram dan YouTube menjadi mimbar baru. Namun, otoritas dan keteladanan tetap dijaga. Justru, kehadiran kiai di dunia maya menjembatani generasi muda yang haus akan panutan tapi akrab dengan teknologi.