IFA.id - Di sebuah pesantren di pinggiran kota, suara adzan subuh menggema lembut. Para santri berduyun-duyun menuju masjid, mengenakan sarung dan peci, sebagian membawa kitab kuning yang sudah mulai lusuh di pinggirannya.
Mereka hidup dalam ritme yang sederhana: belajar, beribadah, dan berkhidmat. Namun, di luar tembok pesantren, dunia sedang ramai. Ada berita, demonstrasi, dan perdebatan yang mengguncang hati kaum muda, termasuk santri.
Fenomena santri yang ikut berdemo bukan hal baru. Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era reformasi, banyak santri terlibat aktif dalam menyuarakan kebenaran.
Mereka turun ke jalan, bukan karena haus kekuasaan, tetapi karena rasa cinta kepada tanah air dan keadilan.
Baca Juga: Antara Suara Nurani dan Nafsu Amarah: Menakar Batas Demo Menurut Islam
Namun, di era digital ini, semangat itu sering kali terjebak dalam kebisingan. Teriakan, fitnah, dan kemarahan bercampur menjadi kabut yang menutupi makna sejati perjuangan.
Kiai dalam tradisi pesantren selalu mengajarkan satu hal penting: “Jaga niatmu, dan jaga adabmu.” Karena tanpa niat yang bersih, perjuangan bisa berubah menjadi nafsu; tanpa adab, kebenaran bisa kehilangan cahaya.
Islam mengajarkan keseimbangan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Khairul umuri awsathuha” — Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan. (HR. Baihaqi)
Kiai dan pesantren memahami bahwa “jalan tengah” bukan berarti diam atau takut bersikap. Jalan tengah adalah sikap bijak untuk tidak larut dalam ekstremitas: tidak terlalu keras hingga menimbulkan kebencian, dan tidak terlalu lembek hingga kehilangan keberanian.
Baca Juga: Santri dan Tanggung Jawab Sosial: Berdakwah di Tengah Suara Massa
Di sinilah pesantren menjadi penyangga moral bangsa. Ketika sebagian kelompok terlalu emosional dalam menyuarakan aspirasi, pesantren hadir mengingatkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar harus dijalankan dengan hikmahdan mau’izhah hasanah.
Santri diajarkan bahwa membela kebenaran bukan hanya tentang teriak di jalan, tetapi juga menundukkan hati dalam doa, memperdalam ilmu, dan menata akhlak. Karena perjuangan sejati adalah menundukkan ego sebelum menundukkan musuh.
Di masa kebisingan ini, kiai bukan hanya guru agama, tapi kompas moral. Dalam setiap petuahnya, kiai menuntun santri agar tetap jernih dalam berpikir dan sabar dalam bersikap. Mereka bukan anti-perubahan, tetapi paham bahwa perubahan sejati lahir dari hati yang bersih.
Kiai tidak menolak santri berdemo, asalkan niatnya lurus dan caranya beradab. Dalam pandangan pesantren, aksi sosial adalah bagian dari dakwah, tapi dakwah yang beradab bukan yang memecah belah.
Artikel Terkait
Santri Milenial, Pejuang Digital: Merekam Spirit Hari Santri di Era Teknologi
Meneladani Rasulullah: Protes Tanpa Kekerasan, Dakwah Tanpa Caci-Maki
Santri Digital: Berdemo dengan Pena dan Doa, Bukan Hanya dengan Teriakan