Kamis, 4 Juni 2026

Santri Digital: Berdemo dengan Pena dan Doa, Bukan Hanya dengan Teriakan

- Senin, 20 Oktober 2025 | 18:32 WIB
Kami tidak berteriak untuk mengguncang dunia, tapi menulis dan berdoa untuk menuntunnya menuju cahaya. (Foto/Ilustrasi)
Kami tidak berteriak untuk mengguncang dunia, tapi menulis dan berdoa untuk menuntunnya menuju cahaya. (Foto/Ilustrasi)

 

IFA.id - Dalam sejarah panjang pesantren, santri dikenal bukan hanya sebagai penuntut ilmu agama, tetapi juga sebagai penjaga moral bangsa.

Ketika zaman berubah dan jalan perjuangan tak lagi hanya di jalan raya, muncullah generasi baru: santri digital. Mereka berdakwah, berdiskusi, bahkan “berdemo” lewat pena, layar, dan doa — bukan dengan teriakan atau amarah.

Santri masa kini hidup di dua dunia: dunia pesantren yang menenangkan, dan dunia maya yang bising dan cepat berubah.

Tantangan mereka bukan lagi kolonialisme bersenjata, tetapi arus informasi, provokasi, dan polarisasi yang menguji kecerdasan hati. Di sinilah muncul panggilan baru: menjadi penyejuk di tengah panasnya debat publik, dan penyampai hikmah di antara kebisingan sosial.

Baca Juga: Antara Suara Nurani dan Nafsu Amarah: Menakar Batas Demo Menurut Islam

Dalam Islam, berdakwah adalah bentuk tertinggi dari cinta kepada umat. Namun, cinta itu harus berbalut adab. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kalimat ini menjadi pedoman utama bagi santri digital.
Ketika sebagian orang memilih teriak di jalan, santri memilih menulis di laman.
Ketika sebagian menebar ujaran kebencian, santri menulis doa dan renungan yang menyejukkan.

Mereka paham bahwa pena bisa lebih tajam dari teriakan, dan doa bisa lebih dahsyat dari orasi.
Di balik layar ponsel, ada ruang dakwah yang luas. Postingan bisa jadi pahala, tapi juga bisa jadi dosa yang panjang.

Baca Juga: Santri dan Tanggung Jawab Sosial: Berdakwah di Tengah Suara Massa

Maka santri menjaga niatnya, menimbang setiap kata yang ia tulis, seolah sedang berwudhu sebelum berbicara di dunia digital.

Santri digital tak hanya berdemo lewat tulisan ilmiah, tetapi juga lewat seni, ilustrasi, puisi, video pendek, dan doa yang indah. Ia sadar, dunia maya lebih mudah tersentuh oleh kelembutan visual dan tutur kata, bukan oleh bentakan.

Pesantren mengajarkan bahwa ilmu dan adab harus berjalan seiring.Dalam berdakwah, kata-kata harus lahir dari hati yang bersih.

Sebuah unggahan yang sederhana tapi tulus bisa membuka pintu hidayah bagi banyak orang. Sedangkan tulisan yang penuh kebencian hanya menambah keruh air yang sudah keruh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X