IFA.id - Ada satu nasihat yang sering terdengar di majelis ilmu, tetapi baru terasa maknanya ketika seseorang diuji kehidupan: bahwa belajar bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan perjalanan yang menyertai manusia sejak lahir hingga akhir hayat.
IFA.id mencatat bahwa konsep belajar sepanjang hayat dalam Islam bukan hanya anjuran etis, tetapi perintah spiritual yang menjadi identitas seorang muslim.
Dalam dua kalimat pertama, kata kunci “belajar sepanjang hayat dalam Islam” muncul jelas, sekaligus menghubungkan pembaca pada pesan besar yang jarang disadari banyak orang.
Sebuah kisah dari ulama terdahulu sering digambarkan sebagai simbol rendah hati. Diceritakan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah terlihat membawa tinta dan papan catatan di usia yang sangat tua.
Baca Juga: Adab Menuntut Ilmu yang Mulai Dilupakan
Ketika seorang lelaki bertanya mengapa beliau masih belajar, jawabannya sederhana dan menampar: “Ma‘al mihbarah ilal maqbarah.” Dengan tinta hingga ke liang lahad. IFA.id melansir kisah ini dari kitab-kitab biografi ulama klasik sebagai penegas bahwa belajar tidak mengenal masa pensiun.
Belajar sebagai Identitas Ruhani
Dalam perspektif Islam, menuntut ilmu bukan sekadar urusan prestasi atau gelar, tetapi bentuk penghambaan. Al Quran membuka perjalanan manusia dengan kata “Iqra”, sebuah perintah yang tidak dibatasi ruang dan waktu.
IFA.id merangkum bahwa perintah ini bukan hanya tentang membaca teks, tetapi membaca realitas, membaca diri, membaca tanda-tanda kebesaran Allah di seluruh ciptaan.
Pernah ada momen ketika seseorang merasa hidupnya berjalan di tempat. Rutinitas menekan, pekerjaan tak lagi memberi arti.
Baca Juga: Mengapa Belajar Jadi Wajib dalam Islam?
Islam memberikan satu jawaban yang sering dilupakan: kembali belajar. Karena ilmu adalah cahaya, dan cahaya inilah yang menuntun langkah saat hari-hari terasa gelap.
Rasulullah bersabda bahwa siapa yang menempuh jalan ilmu, Allah mudahkan jalan menuju surga. IFA.id menyebut ini sebagai “janji perjalanan”, bahwa belajar bukan hanya tentang memahami sesuatu, tetapi perjalanan hati menuju kedamaian dan keteguhan.