IFA.id - mencatat, dalam berbagai riwayat, Rasulullah SAW menjadikan hari Kamis sebagai momentum penting untuk memperbanyak amal saleh. Hari ini bukan sekadar transisi menuju Jumat, melainkan waktu istimewa di mana amal manusia diangkat ke hadapan Allah SWT.
Diriwayatkan dalam hadis sahih oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Amal-amal manusia diperlihatkan kepada Allah pada setiap hari Senin dan Kamis. Maka Aku ingin amalku diperlihatkan ketika Aku dalam keadaan berpuasa.”
(HR. Muslim)
Hadis ini bukan hanya pengingat, tapi juga motivasi mendalam. Rasulullah SAW, yang telah dijamin ampunan dosanya, tetap ingin menghadirkan amal terbaiknya di hari Kamis. Lalu, bagaimana dengan manusia biasa yang setiap hari masih bergulat dengan dosa dan kelalaian?
Makna Spiritual Hari Kamis
Dalam pandangan ulama, hari Kamis memiliki dua makna besar: hari pengumpulan amal dan hari penyiapan diri menuju Jumat. Ulama tafsir menyebutnya sebagai hari yang memantulkan semangat ibadah dan introspeksi.
Baca Juga: Dari Sahur Hingga Sedekah: Menelusuri Tradisi Kamis Berkah di Nusantara
IFA.id merangkum pandangan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitabnya al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq: “Hari Kamis adalah cermin bagi hati yang ingin bersih. Siapa yang menutup hari Kamis dengan dosa, seakan menutup pintu rezekinya sendiri.”
Artinya, hari Kamis bukan sekadar rutinitas, tapi titik balik rohani. Sebab di sinilah setiap amal dicatat dengan teliti, setiap niat diuji dengan tulus, dan setiap langkah diuji arah tujuannya.
Kebiasaan Rasulullah SAW di Hari Kamis
Menurut catatan para sahabat, Rasulullah SAW memiliki beberapa kebiasaan mulia setiap hari Kamis. Di antaranya:
-
Berpuasa Sunnah
Rasulullah SAW sangat mencintai puasa Senin dan Kamis. Puasa pada dua hari itu bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk syukur dan penyucian amal. Puasa Kamis diyakini sebagai amalan yang membuat doa lebih cepat diijabah karena dilakukan di waktu pengangkatan amal. -
Memperbanyak Sedekah
Rasulullah SAW juga dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan. Beliau memperbanyak sedekah di hari Kamis karena ingin amal kebajikan naik dalam keadaan sedang memberi. -
Bersilaturahmi dan Menyambung Ukhuwah
Dalam banyak riwayat, beliau menekankan pentingnya memperbaiki hubungan antarsesama menjelang Jumat. Hari Kamis sering menjadi momentum memperbaiki hubungan yang renggang, karena dosa sosial juga diangkat dalam catatan amal.