IFA.id - Pernahkah terpikir mengapa banyak umat Islam begitu semangat menjalani hari Kamis? Di berbagai tempat, hari ini sering disebut sebagai Kamis Berkah – waktu yang penuh dengan doa, sedekah, dan harapan.
Dalam tradisi Islam, Kamis bukan sekadar hari menjelang Jumat, melainkan momentum untuk menyiapkan hati dan amal menuju hari agung berikutnya.
IFA.id mencatat, banyak riwayat dan kisah ulama yang menjelaskan bahwa Kamis adalah salah satu hari ketika amal manusia diangkat ke langit.
Rasulullah SAW bersabda, “Amal manusia dihadapkan kepada Allah setiap hari Senin dan Kamis. Maka aku suka ketika amalanku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Tirmidzi).
Baca Juga: Puasa, Latihan, dan Keteguhan: Pelajaran Olahraga di Bulan Ramadan
Keistimewaan Kamis: Hari Pengangkatan Amal
Bayangkan setiap Kamis menjadi semacam "laporan mingguan" spiritual kepada Sang Khalik. Semua amal, baik kecil maupun besar, dicatat dan dihadapkan kepada Allah.
Karena itu, para salafus shalih begitu berhati-hati menjaga ucapan, memperbanyak istighfar, dan melakukan amal kebajikan di hari Kamis.
Kamis menjadi hari penyucian hati. Banyak orang memilih untuk berpuasa, bersedekah, atau mengunjungi orang tua. Semua itu bukan rutinitas kosong, tetapi cara untuk memastikan catatan amal mingguannya harum di hadapan Allah.
Kamis Sebagai Waktu Mustajab Doa
IFA.id melansir dari beberapa ulama tafsir, doa di hari Kamis dipercaya lebih cepat dikabulkan. Salah satu sebabnya karena pintu langit terbuka luas di antara Kamis sore hingga malam Jumat. Ada nuansa ketenangan dan kesiapan batin yang membuat doa lebih tulus.
Baca Juga: Menang Tanpa Angkuh: Etika dan Sportivitas dalam Olahraga Menurut Islam
Beberapa ulama bahkan mencontohkan adab khusus: memperbanyak istighfar sebelum berdoa pada hari Kamis, membersihkan diri (mandi sunnah), dan bersedekah sekecil apa pun – walau hanya sepotong roti atau sebotol air – agar doa disambut dengan berkah.