IFA.id - Bayangkan saat itu, di tanah tandus Madinah, Rasulullah SAW bersama para sahabat menancapkan batang kurma sebagai tiang pertama.
Tak ada marmer, tak ada kubah megah, hanya tanah, dedikasi, dan cinta kepada Allah. Di sanalah sejarah peradaban Islam bermula bukan dari istana, tapi dari masjid sederhana yang kemudian dikenal dunia sebagai Masjid Nabawi.
IFA.id mencatat, pembangunan Masjid Nabawi dilakukan sesaat setelah hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Tempat itu bukan hanya untuk salat, tapi juga menjadi pusat pendidikan, diplomasi, musyawarah, dan solidaritas umat.
Rasulullah tidak pernah memerintahkan kemewahan dalam membangun. Dinding Masjid Nabawi kala itu dibuat dari bata lumpur, atapnya dari pelepah kurma, dan lantainya beralaskan tanah. Meski sederhana, suasananya penuh ketenangan dan kebersamaan.
Baca Juga: Dari Hadis hingga Sains: Mengapa Kucing Disukai dalam Islam?
Desainnya menunjukkan filosofi mendalam:
-
Atap rendah melambangkan kerendahan hati.
-
Pintu terbuka menandakan keterbukaan terhadap siapa pun tanpa membeda-bedakan.
-
Kiblat awal ke Baitul Maqdis, lalu beralih ke Ka'bah, menjadi simbol perjalanan spiritual dan ketaatan kepada perintah Allah.
IFA.id menemukan catatan dari sejarawan Ibnu Ishaq bahwa Rasulullah sendiri ikut memanggul batu bata saat pembangunan. Itu bukan hanya teladan kepemimpinan, tapi juga pesan bahwa rumah Allah dibangun dengan tangan dan hati.
Baca Juga: Kucing dan Kebersihan: Pelajaran Hidup dari Sunnah Rasul
Masjid Nabawi bukan hanya tempat ibadah. Dalam sejarahnya, ia berfungsi sebagai:
-
Madrasah ilmu: di mana para sahabat seperti Abu Hurairah belajar hadis dan tafsir.