Shalat dua rakaat di tengah gelap, ditemani suara jangkrik dan hembusan angin, menjadi momen paling intim antara hamba dan Tuhan.
Baca Juga: Cahaya di Sepertiga Malam: Ketika Tahajud Menjadi Jalan Pulang bagi Hati yang Hilang
Rasulullah SAW bersabda:
"Tuhan kita turun ke langit dunia setiap malam ketika tinggal sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan; siapa yang meminta ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni." (HR. Bukhari dan Muslim)
IFA.id menyoroti hadis ini sebagai dasar spiritual utama budaya tahajud di pesantren. Para kiai menanamkan pemahaman bahwa waktu malam adalah ladang rahmat. Saat dunia sunyi, hati manusia lebih mudah mendengar panggilan Tuhannya.
Doa Santri di Tengah Malam
Salah satu doa yang sering dibaca dalam tahajud dan dzikir malam di pesantren adalah:
Allahumma inni as’aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wa hubba ‘amalin yuqarribuni ila hubbik.
Baca Juga: Tenang di Tengah Gelap: Tahajud Sebagai Terapi Jiwa dalam Pandangan Islam
Artinya: “Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta terhadap amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.”
Doa ini menjadi simbol budaya taqarrub di pesantren. Ia bukan hanya permintaan cinta ilahi, tapi juga pernyataan kerendahan hati: bahwa ilmu, amal, dan prestasi tak berarti tanpa keberkahan dan cinta dari Allah.
Budaya ini melatih santri untuk mencintai kesunyian dan menjadikan ibadah bukan sekadar rutinitas. Dalam kesunyian malam, santri belajar mengenali kelemahan diri, menghapus kesombongan, dan menumbuhkan empati.
IFA.id menilai, tradisi taqarrub membentuk karakter khas santri: kuat dalam ibadah, lembut dalam pergaulan, dan ikhlas dalam berjuang. Santri tidak hanya dididik untuk cerdas dalam berpikir, tapi juga jernih dalam merasa. Karena hanya hati yang tenang yang mampu menebarkan kedamaian.
Baca Juga: Ketika Dunia Terlelap, Langit Justru Terbuka: Keajaiban Doa Tahajud
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, budaya taqarrub menjadi oase bagi jiwa yang haus ketenangan. Pesantren dengan segala kesederhanaannya justru menjadi benteng spiritual yang menjaga keseimbangan antara ilmu dan iman.