IFA.id - mencatat bahwa budaya taqarrub di pesantren bukan sekadar rutinitas, melainkan warisan spiritual dari para kiai dan ulama salaf. Ia adalah ruang sunyi tempat santri membangun hubungan dengan Allah tanpa hiruk pikuk dunia.
Bagi santri, malam bukan waktu untuk beristirahat semata. Di pesantren, malam justru menjadi waktu belajar yang paling penting belajar memahami diri dan Tuhannya.
Setelah mengaji kitab dan menunaikan shalat Isya berjamaah, sebagian santri memilih untuk tidak langsung tidur. Mereka menunggu sepertiga malam, lalu bangun untuk tahajud, dzikir, atau membaca wirid.
Tradisi ini dikenal dengan istilah taqarrub ilallah, yang berarti mendekatkan diri kepada Allah. Tidak ada paksaan, tapi ada kesadaran yang tumbuh dari keteladanan.
Baca Juga: Makna Barzanji di Pesantren: Ketika Syair Menjadi Zikir
Para kiai sering berkata, "Malam adalah waktu ketika Allah membuka pintu langit, maka jangan biarkan ia berlalu tanpa doa."
IFA.id menilai, budaya ini melatih santri untuk disiplin batin menyadari bahwa kekuatan sejati tidak datang dari banyaknya ilmu semata, tapi dari hati yang terhubung dengan Sang Pencipta.
Dzikir malam di pesantren bukan hanya serangkaian bacaan, tapi juga irama kehidupan. Lantunan Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar yang diucapkan berulang kali menjadi musik yang menenangkan hati.
Dalam heningnya malam, setiap lafaz terasa hidup, membawa ketenangan yang tak bisa digantikan oleh apa pun.
Di beberapa pesantren Jawa dan Madura, dzikir malam dilakukan secara berjamaah. Santri duduk melingkar di serambi masjid, membaca wirid bersama, diakhiri dengan doa panjang untuk guru, orang tua, dan umat Islam seluruhnya.
Baca Juga: Ngaji dan Ngopi: Tradisi Pesantren yang Menyatukan Ilmu dan Kehangatan
IFA.id mencatat bahwa kebersamaan ini menumbuhkan rasa persaudaraan spiritual yang dalam bahwa setiap doa tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk semesta.
Dzikir malam juga menjadi sarana muhasabah diri. Santri belajar merenungi kesalahan, beristighfar, dan menata niat kembali. Dari sinilah lahir pribadi yang lembut, rendah hati, dan jauh dari kesombongan.
Tahajud di pesantren bukan kewajiban, tapi kebutuhan. Banyak santri yang mengaku, begitu terbiasa bangun malam, mereka merasa ada yang hilang jika melewatkannya.