shufah

Tradisi Ziarah dan Tawasul di Kalangan Santri: Antara Cinta dan Adab

Kamis, 16 Oktober 2025 | 13:56 WIB
Ziarah bukan sekadar kunjungan ke makam, tetapi perjalanan hati yang penuh cinta dan adab. (Foto/Ilustrasi)

 

IFA.id - mencatat, tradisi ini bukan sekadar ritual, tapi bagian dari budaya spiritual yang membentuk karakter santri. Ia mengajarkan adab sebelum ilmu, cinta sebelum logika, dan penghormatan sebelum ucapan.

Ziarah bagi santri bukanlah sekadar kunjungan fisik ke pusara. Itu perjalanan batin yang penuh makna. Dalam diam, langkah kaki menuju makam para ulama adalah simbol cinta dan penghargaan yang mendalam.

Di setiap pesantren, khususnya di Jawa dan Madura, ziarah sering dilakukan sebelum libur panjang atau menjelang Ramadan.

Para santri membawa bunga, air doa, dan hati yang penuh harap. Mereka membaca Yasin, Tahlil, dan doa tawasul, menyebut satu per satu nama guru dan ulama yang mereka cintai.

Baca Juga: Makna Barzanji di Pesantren: Ketika Syair Menjadi Zikir

Sebagaimana dikatakan KH. Hasyim Asy’ari dalam kitabnya, Adabul ‘Alim wal Muta’allim, “Ilmu tidak akan memberi manfaat tanpa adab.”

Ziarah adalah bentuk nyata dari adab itu. Dengan ziarah, santri belajar untuk tidak sombong atas ilmunya, sebab setiap ilmu berasal dari mata rantai panjang guru-guru terdahulu.

Sering disalahpahami oleh sebagian orang, tawasul dianggap sebagai bentuk permohonan kepada selain Allah. Padahal, sebagaimana dijelaskan dalam banyak kitab ulama Ahlussunnah, tawasul adalah cara mendekatkan diri kepada Allah melalui perantara orang-orang saleh yang dicintai-Nya.

Imam Nawawi dalam Al-Adzkar menulis, “Disunnahkan bertawasul kepada Allah melalui para nabi dan orang-orang saleh, baik semasa hidup maupun setelah wafat mereka.”

Baca Juga: Ngaji dan Ngopi: Tradisi Pesantren yang Menyatukan Ilmu dan Kehangatan

IFA.id melihat, tawasul bagi santri adalah simbol ikatan spiritual yang kuat. Santri percaya bahwa keberkahan ilmu dan hidupnya datang dari rantai doa yang tak terputus—dari guru ke murid, dari kiai ke santri, hingga sampai kepada Allah SWT.

Tawasul juga melatih kerendahan hati. Dengan menyebut nama-nama para ulama dalam doa, santri diingatkan bahwa mereka bukan siapa-siapa tanpa jasa para pendahulu. Ada rasa takzim yang lembut, yang tumbuh bersama cinta dan hormat.

Doa Tawasul di Kalangan Santri

Di pesantren, doa tawasul biasanya dibaca bersama sebelum tahlil atau ziarah. Berikut salah satu bentuk doa yang sering dipanjatkan:

Allahumma bi haqqi man yatawassalu ilayka bihim minal anbiya’i wal auliya’i was-salihin, wabi barakatihim, wabi du’a’ihim, ij’alna min ‘ibadika as-salihin, warzuqna husnal khitam, wa la taj’al fina wa fi ahlina syiqiyan wa la mahruman, ya Arhamar Rahimin.

Halaman:

Tags

Terkini

Belajar di Era Digital: Pandangan Islam & Tantangannya

Kamis, 20 November 2025 | 17:31 WIB

Cara Menuntut Ilmu yang Diajarkan Nabi

Kamis, 20 November 2025 | 17:28 WIB

Ilmu sebagai Cahaya: Makna Mendalam Menurut Ulama

Kamis, 20 November 2025 | 17:16 WIB

Belajar Sepanjang Hayat dalam Perspektif Islam

Kamis, 20 November 2025 | 17:11 WIB

Adab Menuntut Ilmu yang Mulai Dilupakan

Kamis, 20 November 2025 | 17:06 WIB

Mengapa Belajar Jadi Wajib dalam Islam?

Kamis, 20 November 2025 | 17:01 WIB

Rahasia Keutamaan Menuntut Ilmu dalam Islam

Kamis, 20 November 2025 | 16:56 WIB

Amalan Jumat Pembuka Rezeki Menurut Sunnah

Jumat, 14 November 2025 | 16:45 WIB

Keutamaan Hari Jumat dalam Islam yang Perlu Dipahami

Jumat, 14 November 2025 | 15:12 WIB