Pasar ekonomi syariah bukan hanya di Indonesia. Ada jutaan konsumen muslim di Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Eropa yang mencari produk halal terpercaya.
HalalTech membaca peluang ini dengan cermat. Mereka bekerja sama dengan startup logistik dan fintech syariah di Malaysia untuk memperluas jangkauan layanan.
Strategi ini membuahkan hasil. Pada 2022, HalalTech mencatatkan pertumbuhan transaksi lintas negara hingga 270%, sekaligus menarik perhatian investor dari Dubai dan Kuala Lumpur.
Baca Juga: Dana Sosial Syariah di Era Digital: Zakat, Infaq & Wakaf lewat Aplikasi
Namun, yang paling menarik adalah cara mereka menjaga prinsip syariah dalam setiap keputusan bisnis. Tidak ada sistem riba, tidak ada iklan yang menyalahi etika Islam, dan semua pendapatan disaring melalui dewan pengawas syariah internal.
Kunci Keberhasilan: Kepercayaan dan Nilai
Menurut data dari State of Global Islamic Economy Report, nilai ekonomi halal dunia mencapai US$ 2,8 triliun pada 2024. Tapi yang membuat HalalTech berbeda bukan sekadar angka, melainkan kepercayaan.
IFA.id menelusuri, kepercayaan pengguna dibangun lewat tiga hal:
-
Transparansi data – Semua produk yang masuk ke platform diverifikasi dan ditampilkan sumber bahan bakunya.
-
Edukasi digital halal – HalalTech rutin mengadakan webinar, kursus singkat, dan podcast tentang literasi halal.
-
Komunitas aktif – Pengguna bisa memberi ulasan, melaporkan produk mencurigakan, dan saling merekomendasikan merek halal baru.
Baca Juga: Jejak Islam dalam Nasi Biryani: Warisan Kuliner dari India hingga Afrika Timur
Inilah yang membuat HalalTech tak sekadar startup, melainkan gerakan sosial digital yang menyatukan kesadaran halal lintas generasi.
Tantangan di Tengah Pertumbuhan
Namun, jalan menuju sukses tidak mulus. Salah satu pendiri HalalTech, Rahman Fadillah, mengaku sempat khawatir ketika server mereka tumbang akibat lonjakan pengguna.
“Waktu itu, kami harus memilih: tetap murah dengan server kecil, atau berinvestasi besar untuk kecepatan dan keamanan. Kami pilih kedua,” ujarnya sambil tersenyum.
Artikel Terkait
Fenomena Umrah Healing: Antara Niat Ibadah dan Pencarian Jiwa
Umrah Sebagai Healing: Antara Rindu, Iman, dan Penenang Jiwa
Bagaimana Teknologi Digital Mempercepat Inklusi Ekonomi Syariah di Indonesia