IFA.Id - Beberapa tahun terakhir, travel umrah di Indonesia melaporkan lonjakan jamaah muda berusia 20–35 tahun. Mereka datang bukan hanya untuk menunaikan ibadah, tapi juga mencari ketenangan batin dari hiruk-pikuk dunia kerja, percintaan, hingga tekanan sosial. “Aku ingin rehat, tapi bukan ke pantai. Aku ingin tenang di tempat yang membuatku ingat Tuhan,” ungkap salah satu jamaah muda dalam wawancara dengan IFA.id.
Fenomena ini menandai perubahan cara generasi muda melihat spiritualitas. Jika dulu umrah identik dengan ibadah orang tua, kini Tanah Suci menjadi ruang refleksi bagi mereka yang haus makna hidup. Healing bukan lagi sekadar liburan, tapi perjalanan untuk mengenali diri dan mendekat pada Sang Pencipta.
Menurut data Kementerian Agama, jumlah jamaah umrah di bawah 40 tahun meningkat hampir 20% dalam dua tahun terakhir. Kenaikan ini didorong oleh kemudahan akses digital — dari pendaftaran online hingga promo travel ramah milenial. Banyak biro perjalanan kini menyesuaikan paketnya dengan kebutuhan anak muda: itinerary fleksibel, dokumentasi konten, hingga sesi refleksi rohani.
“Anak muda sekarang mencari makna di balik perjalanan,” ujar Siti Rahma, salah satu penyelenggara umrah yang fokus pada segmen milenial. “Mereka ingin pulang bukan hanya dengan oleh-oleh, tapi dengan hati yang lebih tenang dan iman yang diperbarui.”
Baca Juga: Riba dan Krisis Keuangan: Bukti Nyata Kebijaksanaan Islam
Konsep “healing rohani” sendiri berkembang seiring meningkatnya kesadaran mental health di kalangan muslim muda. Di media sosial, tagar seperti #UmrahHealing dan #SpiritualJourney ramai diunggah, memperlihatkan momen haru di Raudhah, Masjidil Haram, atau saat tadarus di tengah malam. Semua menggambarkan satu hal: pencarian kedamaian melalui ibadah.
IFA.id mencatat, konten umrah yang disertai narasi reflektif dan jujur kerap viral. Bukan karena keindahan fotonya, tapi karena keaslian emosinya. Banyak warganet merasa tersentuh melihat bagaimana ibadah di Tanah Suci bisa menjadi momen “reset” spiritual di tengah penatnya hidup modern.
Namun, di balik tren ini muncul pula pertanyaan kritis: apakah umrah benar-benar dijalani sebagai ibadah, atau sudah bergeser menjadi gaya hidup spiritual baru? Para ulama menegaskan, tidak masalah menjadikan umrah sebagai sarana healing, selama niat utamanya tetap ibadah dan mencari ridha Allah.
Ustaz Fauzan dari Majelis Taklim Al-Hijrah menjelaskan, “Umrah bisa menjadi terapi jiwa, asal hati tidak menjadikannya ajang pamer atau tren belaka. Justru ketika seseorang datang dengan hati lelah, ia pulang dengan jiwa yang lebih lapang.”
Baca Juga: Mengapa Riba Diharamkan? Inilah Alasan Ilmiah dan Spiritualnya
Di sisi lain, beberapa travel agent mengaku, tren ini berdampak positif pada peningkatan kesadaran beragama. Banyak peserta umrah muda yang setelah pulang rutin mengikuti kajian, mulai memperbaiki ibadah, bahkan terlibat dalam kegiatan sosial. Artinya, healing rohani di Tanah Suci bisa menjadi titik awal perubahan hidup.
Kisah Rani (27) misalnya, menjadi contoh nyata. Ia sempat mengalami burnout berat karena tekanan kerja di startup besar. Setelah memutuskan ikut umrah, ia merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan. “Saat thawaf, rasanya semua beban hilang. Aku menangis bukan karena lelah, tapi karena merasa disembuhkan,” tuturnya pada IFA.id.
Fenomena “Umrah Healing” juga selaras dengan tren global. Di Timur Tengah, sejumlah lembaga wisata religi menggabungkan umrah dengan sesi spiritual retreat, ziarah sejarah Islam, hingga workshop refleksi diri. Tujuannya: mengubah ibadah menjadi perjalanan jiwa yang utuh.
Psikolog Islam, dr. Naufal Al-Ghazali, menilai tren ini sebagai sinyal positif. “Manusia modern butuh ruang sunyi. Bagi muslim, umrah bisa menjadi bentuk detoks batin — mengembalikan kesadaran bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada dunia, tapi pada kedekatan dengan Tuhan.”