safar

Adab Muslim: Doa, Etika, dan Berkah Perjalanan

Senin, 8 September 2025 | 11:17 WIB
Perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tapi juga ibadah. Dengan doa, etika, dan adab safar, setiap langkah jadi penuh berkah. (Foto/Ilustrasi)

 

IFA.id - Perjalanan selalu membawa cerita. Ada rasa rindu yang ditinggalkan, ada harapan baru yang dituju. Dalam Islam, perjalanan atau safar bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah.

IFA.id mencatat, Rasulullah ﷺ telah mengajarkan doa, adab, hingga etika safar yang jika diamalkan, akan menjadikan setiap langkah penuh berkah.

Menariknya, ajaran ini tetap relevan bahkan di era modern ketika pesawat, kereta cepat, dan teknologi sudah memudahkan perjalanan manusia.

Adab pertama yang ditekankan adalah niat dan doa sebelum berangkat. Rasulullah ﷺ mencontohkan doa naik kendaraan: “Subhânalladzî sakhkhara lanâ hâdzâ wa mâ kunnâ lahu muqrinin, wa innâ ilâ rabbinâ lamunqalibûn.” (QS. Az-Zukhruf: 13-14).

Baca Juga: Fiqih Sehari-hari: Panduan Praktis untuk Ibadah yang Benar

اللّهُ أَكْبَرُ، اللّهُ أَكْبَرُ، اللّهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الأَهْلِ، اللّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ

Latin : Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Subhānalladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahu muqrinīn. Wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn. Allāhumma innā nas’aluka fī safarinā hādzā al-birra wat-taqwā, wa mina al-‘amali mā tardhā. Allāhumma hawwin ‘alainā safaranā hādzā, waṭwi ‘annā bu‘dah. Allāhumma anta aṣ-ṣāḥibu fis-safar, wal-khalīfatu fil-ahl. Allāhumma innī a‘ūdzu bika min wa‘tsā’is-safar, wa ka’ābatil-mandhar, wa sū’il-munqalabi fil-māli wal-ahl.

Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami padahal kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan dan ketakwaan dalam perjalanan ini, serta amal yang Engkau ridai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya. Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pengganti dalam menjaga keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan nasib buruk atas harta serta keluarga.”

Baca Juga: Kisah Masjid Ampel Surabaya, Pusat Dakwah Abad ke-15

Doa ini bukan sekadar lafaz, tetapi pengingat bahwa kendaraan modern apa pun hanya berjalan karena izin Allah. Ketika seorang Muslim mengawali perjalanannya dengan doa, ia sedang melibatkan Allah dalam langkahnya.

Selain doa, Islam menekankan etika berpamitan. Seorang Muslim dianjurkan meminta doa dari keluarga atau sahabat sebelum berangkat, sebagaimana Rasulullah ﷺ mendoakan para sahabatnya: “Astawdi’ullâha dînakum wa amânatakum wa khawâtîma ‘amalikum.”

Halaman:

Tags

Terkini

Bahaya Sikap Julid dalam Islam

Selasa, 25 November 2025 | 22:19 WIB

Kurma, Buah Sunnah yang Sarat Manfaat

Kamis, 20 November 2025 | 23:04 WIB

Umrah Sebagai Healing Rohani Generasi Muda Muslim

Senin, 27 Oktober 2025 | 16:14 WIB

Fenomena Hijrah Urban: Gaya Hidup Baru Muslim Kota

Senin, 27 Oktober 2025 | 13:26 WIB

Gaya Hidup Halal Jadi Pilihan Utama Muslim Urban

Senin, 27 Oktober 2025 | 12:54 WIB

Umrah Jadi Tren Healing Rohani Generasi Muda Muslim

Senin, 27 Oktober 2025 | 12:47 WIB

Tradisi Unik Idul Adha di Berbagai Daerah Indonesia

Jumat, 3 Oktober 2025 | 16:48 WIB

Fakta Mengejutkan di Balik Wisata Religi Borobudur

Kamis, 2 Oktober 2025 | 10:35 WIB

Destinasi Religi Dunia yang Jadi Inspirasi Traveler

Kamis, 2 Oktober 2025 | 10:19 WIB

Mengungkap Pesona Ziarah ke Makam Sunan Kalijaga

Kamis, 2 Oktober 2025 | 10:09 WIB