IFA.id – Idul Adha 2025 tidak hanya dirayakan dengan ibadah salat dan pemotongan hewan kurban, tetapi juga dengan tradisi-tradisi unik yang memperkaya khazanah budaya Nusantara. Dari Sabang hingga Merauke, setiap daerah di Indonesia punya cara tersendiri dalam menyambut dan memaknai hari raya besar umat Muslim ini.
Di Lombok, masyarakat masih menjaga tradisi begibung. Setelah prosesi kurban, warga berkumpul di lapangan atau halaman masjid, duduk melingkar sambil menyantap hidangan daging kurban bersama-sama. Nasi dan lauk pauk disajikan dalam wadah besar yang dikelilingi beberapa orang, melambangkan kebersamaan tanpa sekat sosial.
Seorang warga Desa Pringgabaya, Nurhayati (45), menuturkan kepada IFA.id, "Begibung bukan hanya soal makan bersama, tapi juga mempererat silaturahmi. Semua sama rata, tidak ada yang lebih tinggi atau rendah."
Berbeda dengan Lombok, masyarakat Sunda di Jawa Barat menggelar tradisi ngaruat. Tradisi ini berupa doa bersama sebelum penyembelihan hewan kurban. Biasanya, tetua kampung memimpin doa dan masyarakat berkumpul sambil membawa sesajen sederhana seperti nasi tumpeng kecil dan bunga. Tujuannya untuk memohon keberkahan, keselamatan, serta rasa syukur.
Baca Juga: Harga Hewan Kurban Naik, Bagaimana Respons Jamaah?
Di Garut, prosesi ngaruat bahkan diiringi kesenian tradisional seperti angklung dan kendang. Setelah itu, daging kurban dibagikan kepada warga dengan cara diantarkan langsung ke rumah-rumah.
Aceh punya tradisi khas yang disebut Meugang. Sehari sebelum Idul Adha, masyarakat memasak daging dalam jumlah besar, lalu dibagikan kepada keluarga, kerabat, hingga tetangga. Meugang sudah menjadi tradisi turun-temurun yang dipercaya sejak masa Kesultanan Aceh.
Seorang sejarawan lokal, Teuku Rahman, menjelaskan, "Meugang adalah simbol kepedulian sosial. Tidak ada warga yang dibiarkan tidak merasakan daging di hari raya. Bahkan, perantau akan pulang kampung khusus untuk ikut meugang
Di Kalimantan Selatan, suasana Idul Adha semakin meriah dengan adanya arak-arakan hewan kurban. Hewan, terutama sapi, dihias dengan kain warna-warni, lalu diarak keliling kampung sebelum disembelih. Anak-anak sangat antusias mengikuti prosesi ini karena biasanya ada hiburan rakyat seperti musik panting dan tarian daerah.
Baca Juga: Suasana Idul Adha 2025: Semarak Kurban di Nusantara
"Arak-arakan ini bukan hanya tontonan, tapi juga sarana syiar agama sekaligus hiburan masyarakat," ujar Haji Lukman, tokoh masyarakat Banjarmasin.
Di Papua, tradisi Idul Adha berlangsung dengan nuansa sederhana namun penuh kekhusyukan. Warga Muslim di daerah pedalaman biasanya melaksanakan doa bersama di alam terbuka, di bawah pohon besar atau lapangan kecil. Hewan kurban yang terkumpul kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan secara merata.
Menurut Pastor (tokoh agama lokal), tradisi doa bersama ini menjadi simbol persaudaraan antarumat beragama, karena sering kali warga non-Muslim ikut membantu proses pembagian daging.
IFA.id mencatat, meski berbeda bentuk, semua tradisi Idul Adha di Indonesia memiliki benang merah yang sama: kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur. Perayaan ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga bagian dari budaya yang mengakar di masyarakat.
Artikel Terkait
Rahasia Doa Ringkas Setelah Sholat untuk Ampunan dan Rahmat
Doa Setelah Sholat Agar Hidup Bersih dari Dosa
Doa Syukur Nikmat Agar Hidup Selalu Lapang
Doa Syukur Nikmat yang Membuat Hidup Lebih Tenang
Doa Syukur Nikmat Singkat yang Penuh Makna