IFA.ID--Aroma kopi segar menyeruak di Stadion Pringgondani, Wonogiri. Di tengah denting alat seduh dan riuh penonton, terselenggara Coffee Brewing Competition, bagian dari Puncak Bulan Inklusi Keuangan Solo Raya 2025 yang diinisiasi oleh Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo. Ajang ini menjadi wadah bagi para barista muda dan pecinta kopi dari berbagai daerah untuk unjuk kemampuan dan menyalurkan seni dalam secangkir seduhan.
Perlombaan disusun dengan sistem bagan, di mana peserta harus bertanding satu lawan satu untuk melaju ke babak berikutnya. Suasana kompetitif terasa sejak awal. Setiap peserta membawa karakter dan teknik khas masing-masing. Di tengah deretan barista itu, nama Ammar Fatahillah Hidayat mencuri perhatian.
Meski datang tanpa banyak persiapan, Ammar menunjukkan ketenangan dan presisi dalam setiap tahapan penyeduhan. Ia melangkah dari babak penyisihan ke semifinal dengan konsistensi yang kuat, menghadapi lawan-lawan yang tak kalah berpengalaman.
Namun perjalanan menuju podium juara tidak berjalan mulus. Saat lomba berlangsung, Ammar menghadapi kendala teknis pada timbangan digital yang disediakan panitia. “Sebenarnya juga ada satu kendala waktu lomba. Aku waktu itu nggak bisa pakai timbangan digital yang di stasiun peserta, karena beda sama timbangan digital yang biasa kupakai,” ungkapnya dengan nada tenang.Baca Juga: Pesantren Kilat Kreatif: Belajar Agama Lewat Drama, Film, dan Podcast
Kondisi itu sempat membuatnya gugup. Namun alih-alih panik, Ammar memilih menyesuaikan diri dan mempercayai nalurinya sebagai barista. Ia tetap berpegang pada pengalaman, menjaga takaran dan waktu seduh secara manual. Hasilnya, rasa kopi yang ia sajikan tetap konsisten dan membawanya ke babak final.
Di babak terakhir, suasana semakin tegang. Dua peserta tersisa menyeduh kopi di bawah tatapan juri dan penonton yang memenuhi area kompetisi. Setelah momen yang menegangkan, hasil akhir diumumkan: Ammar Fatahillah Hidayat resmi meraih Juara 1 Coffee Brewing Competition 2025.
Kemenangan itu bukan sekadar keberuntungan. Ada kisah perjuangan panjang di baliknya. Dalam wawancara usai acara, Ammar mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam lomba kali ini bermula dari ajakan mantan atasannya.Baca Juga: Tangan yang Memberi Lebih Mulia: Spirit Sedekah dalam Kehidupan
“Untuk motivasi mengikuti lomba seduh pada hari itu, sebenarnya saya cuma diundang oleh owner tempat kerja saya yang lama setelah sekitar satu tahun saya resign dari Wonogirich,” ujar Ammar.
“Selama setahun itu saya bekerja di coffee shop lain. Tapi beberapa hari setelah saya resign dari tempat itu karena terkendala biaya dan keadaan, tiba-tiba saya diundang oleh owner Wonogirich untuk ikut kompetisi ini. Saat itu saya sedang di posisi sulit, lagi butuh pekerjaan baru dan sedang mencari penghidupan yang lebih baik.”Baca Juga: Kebaikan yang Menular: Saat Hati Menjadi Sumber Inspirasi
Ia melanjutkan, undangan itu datang di tengah kondisi hidup yang cukup berat. Dengan penuh keyakinan dan semangat, ia memutuskan untuk menerima tantangan tersebut, meski tak ada banyak waktu untuk mempersiapkan diri.
“Saya memberanikan diri untuk mendaftar. Alhamdulillah, saya masih punya teman baik yang mau menemani sampai lomba selesai. Bermodal pengalaman, skill, dan mental dari dunia kopi, saya akhirnya bisa lolos sampai babak final, dan alhamdulillah jadi juara satu,” tuturnya.
Ammar juga berbagi perasaan setelah kemenangannya: rasa syukur, haru, sekaligus lega.
“Saya merasa sangat bersyukur, karena rasa lapar perut, pikiran yang campur aduk, dan tekanan batin yang saya rasakan akhirnya bisa terbayarkan lewat kemenangan ini. Uang hadiah yang saya dapatkan akan saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus modal mencari pekerjaan baru,” ujarnya jujur.Baca Juga: Ikhlas dalam Kebaikan: Jalan Menuju Ketentraman Jiwa