lFA.id -- Setidaknya 116 warga Gaza tewas akibat serangan udara Israel yang dilakukan setelah pengumuman gencatan senjata pada Rabu, 15 Januari 2025.
Menurut laporan dari Pertahanan Sipil Palestina, korban tewas termasuk 30 anak-anak dan 32 perempuan yang menjadi korban dalam serangan brutal oleh pasukan Israel pasca pengumuman gencatan senjata tersebut.
Selain itu, otoritas kesehatan Palestina melaporkan bahwa hingga Sabtu, 18 Januari 2025, total 6.876 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 110.642 lainnya terluka akibat pengeboman yang dilakukan oleh pasukan Zionis.
Serangan-serangan ini terjadi meskipun adanya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang difasilitasi oleh mediasi intensif dari pihak internasional, termasuk Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat.
Gencatan senjata yang disepakati oleh kedua belah pihak untuk menghentikan permusuhan di Gaza dimulai pada hari ini, Minggu, 19 Januari 2025.
Kesepakatan gencatan senjata ini mencakup pertukaran sandera dan tahanan, dengan Hamas yang akan membebaskan 33 sandera, sementara Israel akan membebaskan 737 tahanan Palestina yang ditahan di penjara Israel.
Baca Juga: Houthi Menyerang Israel, Serangan Rudal Dari Yaman Mengaktifkan Sirene di Tel Aviv
Namun, beberapa pihak di Israel, terutama Menteri Keamanan Itamar Ben Gvir, menentang kesepakatan tersebut, menyebutnya sebagai langkah yang "sembrono."
Gencatan senjata ini memberikan harapan baru bagi warga Gaza yang telah terperangkap dalam konflik selama berbulan-bulan, meskipun situasi tetap tegang dan berbagai pihak mengawasi implementasi kesepakatan tersebut dengan cermat.