Selasa, 28 Juli 2026

Mewaspadai Kepemimpinan PBNU, Kaum Nadhdliyin Tetap Di Sana

- Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:06 WIB

 

IFA.ID--Sebagai warga nahdiyin, tidak sekedar gelisah melihat situasi terkini organisasi masyarakat yang di klaim terbesar di Indonesia. Jelang Muktamar ke-35 di Pondik Pesantren Bahrul Ulum Tampakberas Jombang Jawa Timur. Sebagai tanah kelahiran nenek moyang penulis, tempat lahir dan tumbuh besarnya organisasi Nahdatul Ulama, tentunya begitu kental keterkaitan dan kecintaan terhadap NU, tidak saja ajarannya, tapi segala tingkah, pola laku hampir seluruhnya diterapkan dan tertanam. Al Fatihah untuk seluruh pendiri organisasi Nahdatul Ulama, dan istigfar yang banyak ,memohon keampunan Allah SWT, atas semrawutnya organisasi Nahdatul Ulama, terutama dikalangangan Priyayi atas kasta tertinggi di Nahdatul Ulama.

Situasi dan dinamika menjelang Muktamar, mengingatkan Penulis terhadap situasi di Era Majapahit, bagaimana para bersaudara saling menikam dan menusuk, demi memperebutkan kekuasaan, baik itu kekuasaan keamanan, maupun kekuasaan ekonomi. Mahapahit runtuh akibat kombinasi konflik internal, perang saudara dan tekanan dari kekuatan luar. Walaupun mungkin dianggap tidak nyambung, saya hanya melihat bahwa Kebesaran NU, jangan sampai kandas, dan warga Nahdiyin kehilangan pegangan.

Penulis beropini harusnya ketika PBNU Pecah.. idealnya harus berakhir dengan Persatuan. Kisruh di internal PBNU, perlu di waspadai.. apakah ada campur tangan pihak luar, atau memang kisruh demi perbaikan PBNU kedepan. Kalo ditapaktilas perjalanan PBNU Pasca Reformasi, tidak ada yang bisa mengingkari bahwa Kebesaran PBNU adalah di ERA GUSDUR. Seluruh Kyai, Pondok Pesantren, Santri, Para Bu Nyai dan bahkan organisasi-organisasi termasuk PMII, menjadi ikut besar dan mendapatkan peluang untuk masuk dan ikut aktif didalam isu-isu skala nasional dan internasional, mulai mengisi pos-pos di eksekutif, mengisi pos di legislatif, bahkan menjadi buruan Partai Politik untuk dijadikan alat klaim legitimasi suara dan kandidat cawapres dari kalangan nahdiyin.

Harusnya PBNU menjadi lebih besar dan maju pasca ditinggal GUSDUR, tapi fakta nya, Gedung PBNU hanya dikotak katilk saja, tambal sana sini, seolah berkembang dan bertambah, tapi sampai saat ini, sebagai warga nahdiyin, tidak pernah lagi melihat peresmian gedung baru PBNU, tidak melihat pertambahan atas aset. Yang bertambah adalah semakin hebatnya tokoh-tokoh di NU secara personal, hampir seluruh pos eksekutif, legislatif dan yudikatid dan berkembang sayap kiri dan kanan, namun tidak berkembang pesat untuk Rumah Besar Nahdiyin.

Situasi negara yang tidak sedang baik-baik saja, seluruh harga luar biasa, pengangguran dan korupsi merajalela tanpa malu, namun PBNU tidak sedikitpun hadir, (karena sibuk sendir), LALU untuk apa ada PBNU kalau warga nahdiyin nya terlantar.. di panggil sholawat, dipanggil menghadiri seluruh kegiatan, namun tidak emong , tidak diperhatikan. Kisruh PBNU yang isinya adalah Para Kyai kasta tertinggi, cendikiawan, Pejabt publik, tentunya membuat warga nahdiyin tercengang.. apa yang mereka ributkan, apa yang jadi permasalahan,,,

Karena tetap saja warga nahdiyin yang harus terkena dampak natas kebijakan pemerintah, dikejar pajak nya. Kalau bahasa primitif saya, lebih besar angka nahdiyin dibawah angka menengah menuju kemiskinan dan warga nahdiyin yang berada digaris kemiskinan.. yang jadi pejabat dan hidup diatas rata-rata hanya1 %. 

Idealnya dengan banyaknya warga nahdiyin, jangan hanya dimanfaatkan pada masa-masa PEMILU, yang menjual tentang Demokrasi, tapi dimanfaatkan, diberdayakan dan diangkat derajatnya, Karena PBNU punya bargaining yang sangat besar untuk ikut andil terhadap jalannya pemerintahan dan bangsa ini.

Artimnya ketika PBNU tidak bisa bersatu, tidak bisa mengesampingkan ego nya, maka PBNU akan hancur dan tenggelam bersama dengan Negara ini.

Tulisan ini adalah pendapat saya, sebagai bentuk kecintaan, saya terlahir dan terdidik sebagai warga nahdiyin dan berdialektika maju di PMII. 

Terimakasih GUSDUR... Al Fatihah.

 

Penulis : Wahyuono

Seorang Warga Nahdiyin Primitif

(Pendiri PMII Jakarta Utara)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Catatan Seorang Pengamat Kehidupan

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:49 WIB

Sedekah Anak Yatim: Pintu Rezeki yang Jarang Disadari

Kamis, 27 November 2025 | 09:56 WIB

Terpopuler

X