lFA.id -- Gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang telah disepakati mulai berlaku pada Minggu, 19 Januari 2025, pukul 08.30 waktu setempat atau 13.30 WIB.
Gencatan senjata ini merupakan hasil negosiasi yang difasilitasi oleh beberapa pihak internasional, termasuk Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir, dan ditandai dengan penarikan pasukan militer Israel dari Kota Rafah, Gaza.
Beberapa kendaraan militer Israel bergerak menuju koridor Philadelphi, yang merupakan perbatasan antara Gaza dan Mesir.
Baca Juga: Houthi Menyerang Israel, Serangan Rudal Dari Yaman Mengaktifkan Sirene di Tel Aviv
Namun, sebelum dimulainya gencatan senjata, pasukan militer Israel melancarkan serangan di sejumlah titik di Gaza, termasuk serangan yang melukai beberapa orang di dekat Kamp Nusairat, Jalur Gaza Tengah.
Serangan-serangan ini terjadi beberapa jam sebelum kesepakatan gencatan senjata berlaku. Sejak pengumuman gencatan senjata pada 15 Januari 2025 oleh Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed, serangan Israel di Gaza memang meningkat, dengan 122 orang dilaporkan tewas akibat serangan udara tersebut.
Dalam fase pertama gencatan senjata, Israel dan Hamas sepakat untuk saling menukar tahanan. Sebanyak 737 tahanan Palestina yang dipenjara oleh Israel, termasuk anggota Hamas, Fatah, Gerakan Jihad Islam, dan kelompok-kelompok lainnya, akan dibebaskan.
Baca Juga: Serangan Israel Menyusul Kesepakatan Gencatan Senjata, Dikabarkan 32 Warga Palestina Tewas
Namun, lima tahanan yang dianggap sebagai "kelas berat" oleh Israel tidak akan dibebaskan pada tahap pertama. Di sisi lain, Hamas juga akan melepaskan 33 sandera pada hari pertama gencatan senjata.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah tercapai, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memperingatkan bahwa Israel tidak akan ragu untuk kembali melanjutkan pertempuran jika Hamas gagal memenuhi kesepakatan, termasuk memberikan daftar nama sandera yang akan dibebaskan.
Netanyahu menekankan bahwa fase pertama gencatan senjata ini bersifat sementara dan Israel tetap mempertahankan hak untuk berperang jika diperlukan, dengan dukungan penuh dari sekutunya, Amerika Serikat.
Baca Juga: Iran tentang gencatan senjata di Gaza: Keberhasilan bagi Palestina, kekalahan besar bagi Israel
Keputusan untuk melaksanakan gencatan senjata ini menuai tentangan dari beberapa pihak di dalam pemerintahan Israel.
Menteri Keamanan Israel, Itamar Ben Gvir, mengundurkan diri dari pemerintah dan menarik partainya, Otzma Yehudit, dari koalisi yang dipimpin Netanyahu. Ben Gvir menyebut gencatan senjata sebagai perjanjian yang "sembrono" dan tidak sesuai dengan kepentingan Israel.
Artikel Terkait
Perjanjian Gencatan Senjata antara Israel dan Hamas di Gaza, Mengakhiri Konflik yang Terkonsolidasi Selama Lebih dari 460 Hari
Iran tentang gencatan senjata di Gaza: Keberhasilan bagi Palestina, kekalahan besar bagi Israel
Gencatan Senjata Israel-Hamas: Harapan Baru bagi Warga Palestina
Serangan Israel Menyusul Kesepakatan Gencatan Senjata, Dikabarkan 32 Warga Palestina Tewas
Houthi Menyerang Israel, Serangan Rudal Dari Yaman Mengaktifkan Sirene di Tel Aviv