2. Proses Pengolahan Tidak Terpantau
Masalah sering muncul bukan pada bahan utama, tetapi pada alat dan proses. Contohnya, restoran yang menjual makanan viral berbasis ayam bisa saja menggunakan wajan atau alat masak yang sama dengan menu non-halal. Di beberapa kasus, bumbu yang dipakai ternyata mengandung mirin atau wine vinegar.
3. Produk Impor Tidak Tersertifikasi Halal
Tren dessert Korea, minuman Taiwan, atau daging wagyu dari luar negeri sering membuat masyarakat tergoda mencoba. Namun tidak banyak yang mengecek apakah produk itu sudah memiliki sertifikasi halal dari lembaga yang diakui MUI.
Ketika ketiga faktor ini bertemu, lahirlah keraguan. Dan keraguan dalam Islam termasuk kategori syubhat, wilayah yang sebaiknya dihindari.
Baca Juga: Cara Mudah Mengetahui Makanan Halal di Indonesia
Daya Tarik Psikologis Makanan Viral
Kenapa banyak orang langsung membeli tanpa mengecek halal atau tidak? IFA.id merangkum beberapa alasan psikologis yang sering tidak disadari:
Rasa takut ketinggalan tren.
Fenomena FOMO mendorong seseorang mencoba sesuatu supaya tidak merasa tertinggal.
Mendengar testimoni positif dari influencer.
Jika seorang figur publik mengatakan “ini enak banget,” sebagian besar orang langsung percaya tanpa bertanya lebih jauh.
Estetika visual yang menggoda.
Foto makanan viral dirancang agar terlihat sempurna. Ketika tampilan begitu indah, pikiran bawah sadar menganggapnya aman dan layak dicoba.
Baca Juga: Cara Mudah Mengetahui Makanan Halal di Indonesia
Faktor-faktor inilah yang membuat aspek kehalalan sering menjadi hal terakhir yang diingat.
Halal Itu Lebih Dari Sekadar Label
Sertifikasi halal memang menjadi standar penting, tetapi konsep halal jauh lebih luas.