ibrah

Dari Ketenangan ke Kehancuran: Bahaya Riba dalam Hidup Sehari-hari

Senin, 27 Oktober 2025 | 12:41 WIB
Riba menjanjikan kemudahan sementara, tapi menyisakan beban panjang. Pilihlah keberkahan, bukan bunga yang menjerat. (Foto/Ilustrasi)

Awalnya, Dini hanya mengambil kredit kecil untuk membeli gawai baru. Cicilan per bulan terasa ringan, hingga suatu hari ia mengambil pinjaman lagi untuk liburan. Ketika cicilan menumpuk dan gaji tak mencukupi, Dini mulai mengambil kartu kredit lain untuk menutup tagihan sebelumnya.

Dalam dua tahun, total utangnya mencapai tiga kali lipat dari jumlah awal. “Rasanya seperti dikejar sesuatu tiap malam,” ujarnya. “Tidur gelisah, kerja pun tak fokus.”

Cerita seperti Dini hanyalah satu dari ribuan kisah serupa. Sistem bunga yang terus berlipat seolah kecil di awal, namun menghancurkan secara perlahan. Inilah mekanisme halus riba—ia menawarkan kemudahan sementara untuk mengambil kebebasan jangka panjang.

Dampak Psikologis dan Spiritual

Dari segi psikologis, individu yang terjerat riba sering mengalami stres, depresi, bahkan kehilangan motivasi hidup.

Baca Juga: Beda Riba, Bunga, dan Investasi Halal: Panduan Bijak untuk Muslim Modern

Sebuah penelitian dari Journal of Islamic Finance (2023) menunjukkan bahwa 68% responden yang hidup dengan sistem pinjaman berbunga tinggi mengalami gangguan tidur dan kecemasan kronis.

Sementara dari sisi spiritual, para ulama menjelaskan bahwa harta dari riba tidak akan pernah membawa berkah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Riba, meskipun banyak jumlahnya, pasti berakhir dengan kehancuran.” (HR. Ahmad)

Maka tak heran, seseorang bisa terlihat sukses secara finansial, namun batinnya terasa hampa dan penuh keresahan.

Kehancuran Ekonomi Akibat Riba

Tak hanya individu, riba juga menjadi sumber krisis ekonomi global. Lihatlah krisis keuangan 2008 di Amerika Serikat: sistem kredit berbunga tinggi dan spekulatif menyebabkan runtuhnya ribuan lembaga keuangan.

Baca Juga: Kopi, Ketelitian, dan Ketenangan: Perjalanan Ammar FH Menuju Juara Utama Coffee Brewing Competition 2025

Para ekonom Muslim seperti Dr. Umar Chapra dan Muhammad Nejatullah Siddiqi sudah lama memperingatkan bahwa sistem ekonomi berbasis bunga adalah bom waktu.

Ketika utang dibiarkan tumbuh tanpa batas, maka ketimpangan sosial dan kehancuran ekonomi tinggal menunggu waktu.

IFA.id mencatat, Islam melarang riba bukan semata demi kepentingan spiritual, tapi juga untuk melindungi keadilan ekonomi. Sistem ekonomi Islam mendorong investasi berbasis bagi hasil, bukan bunga tetap. Artinya, untung dan rugi ditanggung bersama, bukan menindas satu pihak.

Halaman:

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB