Baca Juga: Demo dalam Pandangan Ulama: Ketika Amar Ma’ruf Harus Tetap Beradab
Dalam salah satu pengajian di pondok, seorang kiai berkata: “Kamu boleh berteriak di jalan, tapi jangan lupa berdoa di sajadah. Kamu boleh marah pada kezaliman, tapi jangan biarkan marahmu membakar hatimu sendiri.”
Kata-kata itu menjadi tamparan lembut bagi banyak santri. Mereka belajar bahwa kekuatan spiritual tidak bisa digantikan oleh viralitas media sosial. Dalam diamnya pesantren, ada kekuatan doa yang lebih dahsyat dari ribuan orasi.
Era media sosial membawa peluang sekaligus tantangan. Santri kini bisa menyuarakan gagasan lewat tulisan, video, atau konten edukatif. Namun, yang perlu diingat: adab tidak boleh tertinggal di balik layar.
Jika dulu santri membawa kitab ke medan dakwah, kini mereka membawa smartphone. Tapi prinsipnya tetap sama: tabayyun sebelum bicara, dan jaga lisan meski di ruang digital.
Baca Juga: Santri Turun ke Jalan: Antara Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Batas Adab Islami
Kiai sering menasihati, “Jari-jarimu adalah lisammu. Gunakan untuk menulis kebenaran, bukan mencaci.”
Dari sini kita belajar bahwa santri digital pun harus tetap membawa semangat rahmatan lil ‘alamin menjadi penebar kedamaian, bukan provokasi. Itulah bentuk baru “jalan tengah”: berdakwah dengan kebijaksanaan, bukan kemarahan.
Pesantren ibarat lentera kecil di tengah gelapnya zaman. Ketika dunia penuh kebisingan, pesantren memilih menyalakan cahaya ilmu dan adab.
Kiai dan santri tidak anti-politik, tetapi mereka menganggap politik hanyalah sarana, bukan tujuan. Tujuan sejati adalah menegakkan nilai-nilai Islam: kejujuran, keadilan, dan kasih sayang.
Baca Juga: Santri Bergerak, Indonesia Bermartabat: Semangat Baru di Hari Santri 2025
Maka ketika santri ikut bergerak, mereka tidak membawa bendera kebencian, melainkan panji kebaikan. Mereka tidak ingin menjadi bagian dari kebisingan, tetapi menjadi penyembuhnya.
Menjaga marwah santri berarti menjaga kesucian niat, kesantunan lisan, dan kesejukan hati. Sebab marwah tidak lahir dari keberanian semata, melainkan dari keseimbangan antara ilmu dan adab.
Kiai selalu mengingatkan: “Perjuangan tanpa ilmu adalah kebodohan, dan ilmu tanpa adab adalah kehancuran.”
Itulah sebabnya, pesantren selalu menanamkan tafaqquh fi al-din — memperdalam ilmu agama agar setiap tindakan berlandaskan hikmah. Karena tanpa bimbingan ilmu dan kiai, semangat bisa menjadi liar, dan perjuangan kehilangan arah.