IFA.id -- Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita terjebak dalam obrolan ringan yang berujung pada ghibah, tanpa sadar sedang membicarakan keburukan orang lain.
Padahal, dalam Islam, ghibah termasuk dosa besar yang dapat menghapus pahala dan mendatangkan murka Allah SWT.
Ghibah bukan hanya merusak hubungan antar manusia, tapi juga mengotori hati dan menjauhkan seseorang dari nilai-nilai keimanan.
Baca Juga: Kekuatan Silaturahmi dalam Islam: Menyambung Kasih, Memperpanjang Umur, dan Meluaskan Rezeki
Apa Itu Ghibah?
Secara bahasa, ghibah berarti membicarakan keburukan orang lain di belakangnya. Dalam hadis, Rasulullah SAW menjelaskan:
“Tahukah kamu apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau berkata, “Engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci.” Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana jika apa yang aku katakan itu benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan itu benar ada padanya, berarti kamu telah mengghibahnya. Jika tidak, berarti kamu telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)
Dengan demikian, ghibah tetap dianggap dosa meskipun hal yang dibicarakan itu benar. Ini menunjukkan betapa seriusnya Islam memandang persoalan menjaga lisan.
Mengapa Ghibah Berbahaya?
1. Menghapus Pahala Kebaikan
Salah satu bahaya terbesar ghibah adalah menghapus pahala amal. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 12, Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”
Gambaran yang Allah berikan sangat keras: memakan daging saudara sendiri yang sudah mati. Ini menunjukkan bahwa ghibah adalah perbuatan yang menjijikkan di sisi Allah.
2. Merusak Hati dan Hubungan Sosial