Kehamilan dan Kelahiran Nabi Isa
Maryam kemudian mengasingkan diri ke tempat yang jauh untuk menghindari cemoohan masyarakat.
Dalam masa kehamilannya, ia mengalami banyak ujian, namun Allah selalu memberikan pertolongan. Saat hendak melahirkan, ia berada di bawah pohon kurma dan merasa sangat lemah.
Allah lalu menghiburnya dengan menurunkan makanan dan minuman dari pohon kurma dan mata air yang muncul di dekatnya (QS. Maryam: 23-26).
Setelah melahirkan, Maryam kembali ke kaumnya dengan membawa bayi Isa. Kaumnya pun menuduhnya telah melakukan perbuatan zina karena melihatnya membawa seorang bayi tanpa suami. Maryam tetap diam dan hanya menunjuk kepada bayinya.
Atas izin Allah, Nabi Isa yang masih bayi berbicara dan membela ibunya. Ia berkata, “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dia memberiku kitab dan menjadikanku seorang nabi” (QS. Maryam: 30-33).
Keistimewaan Maryam dalam Islam
Maryam adalah salah satu wanita terbaik yang disebut dalam Al-Qur’an. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran: 42, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu atas semua wanita di dunia.”
Maryam menjadi simbol kesucian, ketakwaan, dan keteguhan iman. Ia menghadapi ujian berat dengan penuh kesabaran dan keyakinan kepada Allah.
Ia juga menjadi contoh bahwa Allah Maha Kuasa untuk melakukan segala sesuatu, termasuk menciptakan manusia tanpa perantara seorang ayah.
Pelajaran dari Kisah Maryam
Kisah Maryam mengandung banyak hikmah yang dapat dijadikan pelajaran bagi umat manusia:
-
Keimanan yang kokoh kepada Allah – Maryam adalah contoh wanita yang taat dan tidak pernah ragu terhadap ketetapan Allah.
-
Kesabaran dalam menghadapi ujian – Maryam menghadapi cobaan besar dalam hidupnya, namun ia tetap sabar dan yakin akan pertolongan Allah.
-
Kesucian dan kehormatan diri – Maryam menjaga kehormatannya dan selalu berada dalam ketaatan kepada Allah.
-
Keajaiban kekuasaan Allah – Melalui kelahiran Nabi Isa, Allah menunjukkan bahwa segala sesuatu bisa terjadi atas kehendak-Nya.