IFA.id -- Maryam binti Imran adalah salah satu wanita paling mulia dalam sejarah peradaban manusia.
Ia disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai wanita yang memiliki keimanan luar biasa, kesabaran, dan ketakwaan yang tinggi.
Maryam juga satu-satunya wanita yang namanya diabadikan dalam sebuah surah, yakni Surah Maryam.
Keistimewaannya semakin bertambah karena ia diberi anugerah oleh Allah untuk melahirkan Nabi Isa tanpa adanya seorang ayah, sebagai tanda kekuasaan-Nya.
Baca Juga: Peran Al-Biruni dalam Sejarah Ilmu Pengetahuan dan Perhitungan Geografis
Kelahiran dan Kehidupan Maryam
Maryam lahir dari pasangan Imran dan Hannah. Kedua orang tuanya adalah keluarga yang taat kepada Allah, dan ibunya, Hannah, telah bernazar bahwa anak yang dikandungnya akan didedikasikan untuk mengabdi di Baitul Maqdis.
Allah menerima nazar tersebut, dan Maryam pun tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan ibadah dan kesucian.
Sejak kecil, Maryam diasuh oleh Nabi Zakaria, yang juga merupakan seorang nabi yang mulia.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Maryam mendapat rezeki langsung dari Allah, dan keistimewaannya terlihat sejak dini.
Nabi Zakaria sering menemukan makanan di tempat Maryam tanpa mengetahui dari mana asalnya. Ketika ditanya, Maryam menjawab bahwa makanan tersebut berasal dari Allah (QS. Ali Imran: 37).
Kabar Gembira dari Malaikat Jibril
Maryam menjalani kehidupannya dengan penuh ketakwaan, beribadah di tempat suci, dan menjaga kesuciannya.
Suatu hari, Malaikat Jibril datang kepadanya dalam wujud seorang manusia yang sempurna. Maryam terkejut dan ketakutan, namun Jibril menenangkannya dengan menyampaikan kabar gembira bahwa ia akan mengandung seorang anak laki-laki yang suci, yakni Nabi Isa (QS. Maryam: 16-19).
Maryam merasa heran dan berkata, “Bagaimana mungkin aku memiliki anak sedangkan aku belum pernah disentuh oleh laki-laki dan aku bukan seorang pezina?” Jibril pun menjawab bahwa hal itu adalah ketetapan Allah.
Allah berkehendak menciptakan Isa tanpa ayah sebagai tanda kebesaran-Nya, sebagaimana penciptaan Nabi Adam yang tanpa ayah dan ibu (QS. Maryam: 20-21).
Baca Juga: Imam Malik: Pendiri Mazhab Maliki dan Keilmuannya dalam Hadis
Artikel Terkait
Jihad dalam Islam: Makna, Jenis, dan Relevansinya dalam Kehidupan Modern
Imam Malik: Pendiri Mazhab Maliki dan Keilmuannya dalam Hadis
Peran Al-Biruni dalam Sejarah Ilmu Pengetahuan dan Perhitungan Geografis
Kontribusi Jabir bin Hayyan dalam Ilmu Kimia dan Metode Eksperimental
Mengelola stres dalam Islam dengan tawakal, shalat, dzikir, pola hidup sehat, bersedekah, dan memahami hikmah ujian.