IFA.id menulis, ketika dunia berbicara tentang efisiensi, Islam berbicara tentang keadilan.
Dan keduanya hanya bisa hidup bersama bila ada kejujuran.
Artificial Intelligence (AI) mampu menganalisis miliaran data dalam hitungan detik.
Tapi satu hal yang tidak bisa dilakukan AI: memiliki empati.
Baca Juga: Doa Syukur Nikmat yang Membuat Hidup Lebih Tenang
Sistem otomatis tidak tahu rasa cukup, tidak mengerti sedekah, dan tidak bisa berniat ikhlas.
Menurut Dr. Luthfi Hakim, peneliti etika teknologi Islam, “AI adalah alat yang cerdas, tapi tanpa nilai. Jika tidak diarahkan dengan prinsip syariah, ia bisa menjadi alat penindasan baru.”
Misalnya, algoritma bank digital yang menolak nasabah miskin karena dianggap “berisiko tinggi”.
Dari sisi teknologi, keputusan itu logis. Tapi dari sisi Islam, itu zalim.
IFA.id menulis, ketika manusia menyerahkan kendali ekonomi sepenuhnya pada mesin, keadilan bisa berubah menjadi kalkulasi.
Di tengah dominasi sistem otomatis global, Indonesia menjadi pionir dengan hadirnya fintech syariah.
Platform seperti Alami, Investree Syariah, dan Amana.id menggabungkan algoritma cerdas dengan prinsip-prinsip Islam.
Tidak ada bunga, tidak ada spekulasi, dan setiap transaksi harus berbasis akad yang jelas.
Baca Juga: Idul Adha dan Gotong Royong: Spirit Kebersamaan Umat
Menurut Fajar Nugroho, CEO Amana.id, “Kami menggunakan AI bukan untuk menggantikan keputusan manusia, tapi mempercepat proses amanah.”
Sistem mereka, misalnya, memverifikasi profil usaha kecil sebelum memberikan pembiayaan — bukan berdasarkan skor kredit, tapi potensi manfaat sosial.
Salah satu efek paling berbahaya dari ekonomi otomatis adalah hilangnya ruh kemanusiaan.
Dalam sistem kapitalisme digital, manusia sering kali dilihat hanya sebagai “data” atau “target pasar.”
“Islam menolak pandangan itu,” tegas Ustadzah Rahma Karim, penceramah ekonomi Islam.
“Dalam pandangan Islam, ekonomi adalah ibadah. Dan ibadah selalu berorientasi pada manusia dan Tuhannya, bukan pada mesin.”
Beberapa ulama dan pakar kini mulai membahas fiqih kecerdasan buatan (fiqh al-‘aqil al-shina’i).
Prinsipnya sederhana: teknologi boleh digunakan, selama tidak melanggar maqasid syariah — yaitu menjaga agama, akal, harta, jiwa, dan keturunan.
Baca Juga: Masjid Besar Gelar Salat Id Akbar, Jamaah Membludak
Artinya, sistem AI dalam keuangan Islam harus memenuhi empat kriteria: