Kamis, 4 Juni 2026

CELIOS dan Greenpeace: Fokus Energi Terbarukan Bisa Serap 20 Juta Tenaga Kerja

- Jumat, 25 April 2025 | 20:42 WIB
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira. (Foto/Listrik Indonesia)
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira. (Foto/Listrik Indonesia)

IFA.id -- Laporan terbaru dari CELIOS dan Greenpeace mengungkapkan bahwa kebijakan transisi energi Indonesia saat ini kurang ambisius.

Keduanya menilai penggunaan teknologi seperti CCS/CCUS, bioenergi dari kelapa sawit, serta gas dan nuklir sebagai solusi transisi energi justru dapat menghambat upaya tersebut.

Menurut Leonard Simanjuntak, Kepala Greenpeace Indonesia, pembangkit gas fosil dengan skenario 22 GW dapat memberikan beban biaya kesehatan hingga Rp89,8–249,8 triliun dalam 15 tahun ke depan.

Baca Juga: Antam Ingin Kelola Lagi IUP yang Dicabut, ESDM Tegaskan Harus Lewat Lelang

Selain itu, ekspansi pembangkit gas fosil dapat mengakibatkan lonjakan emisi CO₂ hingga 49,02 juta ton per tahun dan emisi metana hingga 43.768 ton per tahun. 

Dari sisi ekonomi, Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS, menjelaskan bahwa pembangkit gas fosil dapat menurunkan output ekonomi sebesar Rp941,4 triliun secara akumulatif hingga 2040.

Sementara itu, pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) siklus gabungan dapat menurunkan output ekonomi hingga Rp280,9 triliun. 

Dari sisi tenaga kerja, ekspansi pembangkit gas fosil berisiko menurunkan serapan tenaga kerja hingga 6,7 juta orang, terutama di sektor kelautan dan perikanan yang terdampak.

Baca Juga: CFA Society Indonesia Gelar Konferensi Investasi Kedua, Bahas Peran AI dalam Keuangan dan Investasi

Sebaliknya, jika Indonesia fokus dan beralih pada pengembangan energi terbarukan, CELIOS memperkirakan kontribusi positif terhadap perekonomian sebesar Rp2.627 triliun pada 2040. 

Selain itu, pengembangan pembangkit terbarukan skala komunitas secara masif dapat menyerap hingga 20 juta tenaga kerja pada 2040. 

Kesimpulannya, CELIOS dan Greenpeace menekankan pentingnya fokus pada pengembangan energi terbarukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, serta menciptakan lapangan kerja yang signifikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Shinta Sukmawati Khiran

Sumber: wartaekonomi.co.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ekonomi Syariah 5.0: Revolusi Halal di Era Digital

Kamis, 9 Oktober 2025 | 11:34 WIB

Terpopuler

X