tafaquh

Umroh Bukan Sekadar Perjalanan, Tapi Panggilan Jiwa

Jumat, 10 Oktober 2025 | 02:17 WIB
Bagi yang berangkat, umroh adalah perjalanan. Bagi yang menunggu, umroh adalah doa yang tak pernah padam. Karena setiap hati yang rindu Baitullah, sejatinya sudah dekat dengan-Nya (Foto/Ilustrasi)

Baca Juga: Dari QRIS ke Pahala: Menyentuh Surga Lewat Donasi Digital

IFA.id mencatat, ihram bukan sekadar pakaian, tapi jubah kesadaran — bahwa semua manusia hanyalah tamu, bukan pemilik dunia.

Bagi yang pernah menginjakkan kaki di Masjidil Haram, suasananya sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Udara panas tak terasa, ribuan orang berputar mengelilingi Ka’bah dalam harmoni yang menenangkan, dan setiap doa seolah menembus langit.

“Ketika pertama kali melihat Ka’bah, lutut saya lemas,” cerita Hasanah, seorang tenaga medis dari Makassar.
“Saya menangis tanpa tahu kenapa. Seolah selama ini, seluruh doa yang saya panjatkan menemukan rumahnya di sana.”

Baca Juga: Keadilan Ekonomi Islam di Dunia Otomatis: Antara AI dan Amanah Manusia

IFA.id menulis, tidak ada yang benar-benar siap untuk melihat Ka’bah pertama kali. Karena yang menyambut bukan bangunan, tapi rahmat.

Setiap langkah mengelilingi Ka’bah adalah simbol perjalanan hidup manusia.
Berputar mengelilingi satu titik — Allah — sambil membawa doa, harapan, dan penyesalan.

Tujuh putaran thawaf mengingatkan manusia bahwa hidup selalu berputar, tapi tujuan akhirnya tetap satu: kembali pada Sang Pemilik kehidupan.

“Di tengah lautan manusia itu, saya merasa paling kecil sekaligus paling utuh,” kata Ridwan, jamaah asal Palembang.

Baca Juga: Wakaf Digital: Menghidupkan Amal Jariyah di Dunia Maya
“Tak ada suara selain doa. Tak ada keinginan selain diterima-Nya.”

IFA.id menulis, thawaf adalah tarian jiwa yang hanya bisa dilakukan oleh hati yang telah pasrah.

Di antara dua bukit — Shafa dan Marwah — sejarah cinta dan keyakinan tertulis.
Kisah Hajar yang berlari mencari air untuk bayinya menjadi simbol perjuangan tanpa menyerah.
Dan di sanalah keberkahan turun: Zamzam, air suci yang terus mengalir hingga kini.

“Setiap langkah di antara Shafa dan Marwah, saya seperti berlari bersama Hajar,” ujar Laila, 33 tahun.
“Saya menangis karena sadar, perjuangan seorang ibu bisa mengguncang langit.”

IFA.id menulis, sa’i bukan hanya mengenang kisah, tapi menghidupkannya — bahwa di balik keputusasaan, selalu ada keajaiban.

Baca Juga: Investasi Halal: Tren Baru Kaum Muda Muslim di Era 5.0

Halaman:

Tags

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB