Satu hal yang tak tertulis di formulir pendaftaran namun menjadi inti seluruh proses adalah niat tulus belajar karena Allah. Banyak pesantren, baik putra maupun putri, mewajibkan calon santri mengikuti wawancara dengan pengasuh atau kiai untuk menilai niat dan komitmen.
Kiai Hasyim dari Pesantren Nurul Jadid Paiton pernah menuturkan kepada IFA.id: “Kami bisa menerima santri yang belum pandai membaca Al-Qur’an, tapi sulit menerima yang niatnya setengah hati. Ilmu pesantren tak hanya soal hafalan, tapi juga tentang ketundukan hati.”
Inilah syarat yang sama kuatnya di kedua jenis pesantren. Tanpa niat dan kesungguhan, kehidupan berasrama akan terasa berat, seberapapun modern fasilitasnya.
Baca Juga: Ekonomi Santri: Dari Kantin Pesantren ke Startup Halal
7. Tren Baru: Pesantren Inklusif dan Sistem Campuran
Beberapa tahun terakhir muncul tren pesantren inklusif, di mana lembaga pendidikan memadukan pembelajaran putra-putri dalam satu kompleks, tapi tetap terpisah secara ruang dan kegiatan.
Contohnya seperti Pesantren Modern Al-Azhar Internasional dan Pesantren Ibnu Sina Cibubur yang menerapkan sistem kurikulum terpadu.
Syarat masuk di pesantren inklusif ini biasanya lebih akademik dan berbasis kompetensi, karena fokusnya pada pembentukan intelektual santri modern. Namun, nilai-nilai khas pesantren seperti adab, kedisiplinan, dan akhlak tetap menjadi pondasi utama.
Baca Juga: Dari Pagi hingga Malam: Sehari di Kehidupan Santri
Artikel Terkait
Rahasia Pesantren Melahirkan Pemimpin Hebat Indonesia
Transformasi Pesantren: Dari Surau Tradisional ke Smart Boarding