Kamis, 4 Juni 2026

Dari Pagi hingga Malam: Sehari di Kehidupan Santri

- Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:28 WIB
Dari pagi hingga malam, langkah santri selalu dipenuhi ilmu dan doa — belajar di bawah cahaya mentari, beribadah di tengah kesejukan masjid, dan menutup hari dengan ketenangan hati. (Foto/Ilustrasi)
Dari pagi hingga malam, langkah santri selalu dipenuhi ilmu dan doa — belajar di bawah cahaya mentari, beribadah di tengah kesejukan masjid, dan menutup hari dengan ketenangan hati. (Foto/Ilustrasi)

 

IFA.id - Subuh baru saja turun. Langit di atas pesantren masih abu-abu muda, ayam jantan belum sepenuhnya berhenti berkokok.

Namun, di balik dinding kayu sederhana, azan sudah memecah sunyi. Seorang santri menegakkan duduknya di atas sajadah, menyeka wajah dengan air wudu yang masih dingin, dan bersiap memulai hari yang panjang.

Begitulah kehidupan santri sederhana tapi ritmis. Tak ada alarm digital yang membangunkan, cukup suara azan dan langkah kaki senior yang mengetuk pintu kamar sambil menyeru, “Bangun, subuh, subuh!”

IFA.id mencatat, rutinitas para santri memang unik: padat tapi penuh nilai hidup yang sulit dicari di luar tembok pesantren.

Baca Juga: Gontor Indonesia: Pesantren Dunia yang Melahirkan Pemimpin Bangsa

Subuh: Saat Dunia Masih Hening, Hati Sudah Hidup

Bagi santri, waktu subuh bukan sekadar waktu ibadah. Itu adalah momentum refleksi diri. Di banyak pesantren, kegiatan dimulai dengan salat berjamaah di masjid, lalu dilanjutkan dengan wirid, dzikir, dan membaca kitab kuning.

Kitab kuning simbol klasik pendidikan Islam tradisional — dibaca dengan suara lirih namun serempak. Dari sinilah keheningan pagi berubah menjadi simfoni ilmu.

Di Pesantren Tebuireng misalnya, kegiatan pagi santri diisi dengan ngaji bandongan, di mana ustaz membaca dan menjelaskan isi kitab sementara santri menandai makna di pinggir teks Arab gundul. Tradisi ini sudah berjalan ratusan tahun dan masih lestari hingga hari ini.

Bagi sebagian orang, pagi mungkin waktu terburu-buru. Tapi bagi santri, pagi adalah waktu menyerap hikmah.

Baca Juga: Universitas Islam Indonesia (UII): Cahaya Ilmu dari Yogyakarta untuk Dunia

Pagi: Belajar Tak Sekadar di Kelas

Sekitar pukul tujuh, lonceng sekolah berbunyi. Santri berlarian menuju madrasah atau sekolah formal di dalam kompleks pesantren. Seragam mereka sederhana, tapi semangatnya luar biasa.

Belajar bagi santri bukan hanya soal nilai rapor. Di pesantren, disiplin dan akhlak mendapat tempat yang sama pentingnya. Seorang guru mungkin akan menegur bukan hanya karena jawaban salah, tapi juga karena salam yang terlupa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X