Banyak ulama menafsirkan thawaf sebagai bentuk zikir fisik, bukan hanya ibadah simbolik.
Setiap langkah adalah ucapan subhanallah yang hidup.
Setiap putaran adalah tanda bahwa hidup hanyalah perjalanan kembali kepada Allah.
“Ketika tubuh bergerak mengelilingi Ka’bah, hati ikut berputar mengelilingi rahmat-Nya,” ujar Ustadz Abdul Karim, pembimbing ibadah haji.
“Jika hati tidak ikut berputar, thawaf hanya jadi olahraga.”
IFA.id menulis, thawaf sejati dimulai bukan dari kaki, tapi dari hati yang bertekuk lutut kepada Pencipta.
Tidak sedikit jamaah yang menangis tersedu-sedu saat melakukan thawaf.
Bukan karena lelah, tapi karena sadar sedang berada di hadapan pusat dunia spiritual.
Baca Juga: Idulfitri: Saat Doa dan Harapan Menjadi Lebih Mustajab
“Begitu dekat rasanya dengan Allah,” tutur Rohani (37), jamaah asal Banjarmasin.
“Saya merasa doa-doa yang dulu terkatung di langit akhirnya menemukan jalannya turun.”
IFA.id menulis, setiap air mata thawaf adalah tanda kebersihan jiwa — bukan kelemahan, tapi kekuatan untuk menyerah pada kehendak Allah.
Ka’bah berdiri tegak di tengah-tengah Masjidil Haram, menjadi saksi jutaan doa setiap tahun.
Namun bagi jiwa yang peka, Ka’bah bukan hanya bangunan batu hitam — melainkan cermin dari hati manusia.
“Ka’bah adalah simbol dari pusat kehidupan kita,” jelas Dr. Hafidz Jalal, dosen studi Islam kontemporer.
“Jika hati seseorang dipenuhi dengan Allah, maka seluruh hidupnya akan berputar di sekitar kebaikan. Jika hatinya kosong, maka hidupnya kehilangan arah.”
Baca Juga: Rahasia Keberkahan Idulfitri dalam Silaturahmi Keluarga
IFA.id menulis, Ka’bah tidak berubah selama ribuan tahun — karena ia mengajarkan tentang konsistensi iman di tengah dunia yang terus berubah.
Mengapa tujuh kali?
Para ulama menjelaskan bahwa angka tujuh melambangkan kesempurnaan penciptaan — tujuh lapisan langit, tujuh hari dalam seminggu, dan tujuh anggota sujud dalam salat.
“Setiap putaran thawaf seperti lapisan penyucian,” kata Syekh Hamid al-Faruq, imam Masjidil Haram.
“Pada putaran pertama, manusia meninggalkan dunia. Pada putaran ketujuh, manusia menemukan Allah di dalam dirinya.”
IFA.id menulis, keberkahan thawaf bukan pada jumlah putaran, tapi pada kesadaran yang tumbuh di setiap lingkarannya.
Bagi banyak jamaah, pengalaman thawaf menjadi titik balik kehidupan.
Mereka pulang bukan hanya membawa kenangan, tapi membawa hati yang baru.
Artikel Terkait
Islam dan Self-Love: Bagaimana Muslim Bisa Mencintai Diri Sendiri?
60 Ucapan Idul Fitri 2025 dalam Bahasa Arab, Inggris, dan Terjemahan Indonesia
Islamic Mindfulness: Menenangkan Diri dengan Dzikir dan Doa
Hadis Tentang Sabar: Pedoman Kesehatan Mental bagi Muslim
Bagaimana Islam Mengajarkan Mengontrol Emosi?