IFA.id – Ribuan orang berpakaian putih mengelilingi Ka’bah dengan langkah teratur. Tak ada suara selain lantunan doa dan tangisan lembut yang menggema di udara.
Dari atas, mereka tampak seperti pusaran cahaya yang bergerak seirama — tak berujung, tak berawal.
IFA.id menulis, thawaf bukan sekadar gerakan, tapi napas yang menyatukan manusia dengan kehendak Ilahi.
Setiap langkah adalah doa, setiap putaran adalah zikir, dan setiap air mata adalah tanda rindu yang akhirnya pulang.
Dalam thawaf, semua manusia bergerak ke arah yang sama, mengelilingi satu titik — Ka’bah, simbol keesaan Allah.
Tak ada arah lain, tak ada jalan keluar selain terus berputar di sekeliling pusat itu.
Baca Juga: Umroh Bukan Sekadar Perjalanan, Tapi Panggilan Jiwa
“Gerakan thawaf adalah representasi dari keteraturan alam semesta,” ujar Dr. Ayyub Rahman, pakar tafsir modern.
“Dari elektron yang berputar mengelilingi inti atom, hingga planet yang mengelilingi matahari — semuanya bertasbih dalam pola yang sama.”
IFA.id menulis, di tengah pusaran thawaf, manusia belajar bahwa hidup sejatinya berputar hanya untuk satu tujuan: mendekat kepada Sang Pencipta.
Setiap thawaf dilakukan tujuh kali putaran, melawan arah jarum jam — simbol bahwa ibadah ini melawan arus dunia.
Ketika dunia berlari mengejar ambisi, thawaf mengajarkan untuk berhenti, menunduk, dan kembali kepada poros kebenaran.
“Di setiap putaran, saya merasa satu lapisan dosa terlepas,” kata Ahmad Fauzi, jamaah umroh asal Bandung.
Baca Juga: Destinasi Religi Dunia yang Jadi Inspirasi Traveler
“Ketika melihat Ka’bah, dunia serasa mengecil. Hanya ada diri sendiri dan Allah.”
IFA.id menulis, thawaf adalah latihan untuk berjalan di jalan yang benar — meski dunia memutar ke arah yang lain.
Ribuan orang dari berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit bergerak dalam harmoni. Tak ada yang mendahului, tak ada yang tertinggal.
Semua menyatu dalam satu irama: “Labbaik Allahumma Labbaik.”
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Ka’bah ini adalah rumah Allah di bumi. Barang siapa yang mengunjunginya dengan ikhlas, maka Allah akan menyambutnya sebagaimana tuan rumah menyambut tamunya.” (HR. Bukhari)
Artikel Terkait
Islam dan Self-Love: Bagaimana Muslim Bisa Mencintai Diri Sendiri?
60 Ucapan Idul Fitri 2025 dalam Bahasa Arab, Inggris, dan Terjemahan Indonesia
Islamic Mindfulness: Menenangkan Diri dengan Dzikir dan Doa
Hadis Tentang Sabar: Pedoman Kesehatan Mental bagi Muslim
Bagaimana Islam Mengajarkan Mengontrol Emosi?