Wafat dan Warisan Abadi
Syekh Nawawi wafat pada tahun 1897 di Mekkah. Jenazahnya dimakamkan di Ma’la, dekat makam Ummul Mukminin Khadijah. Hingga kini, makamnya sering diziarahi oleh jamaah haji dan umrah, termasuk dari Indonesia.
Namun, lebih dari sekadar makam, warisan sejati Nawawi adalah ilmunya. Ratusan tahun berlalu, tetapi kitab-kitabnya tetap diajarkan, dikaji, dan dijadikan rujukan. Murid-muridnya melanjutkan perjuangan, dan namanya tetap harum di dunia Islam.
Relevansi di Era Modern
Di era digital, pemikiran Syekh Nawawi tetap relevan. Banyak peneliti menulis ulang, menerbitkan e-book, dan membuat kajian online tentang karyanya.
Santri di pesantren masih mengaji kitabnya. Akademisi di kampus masih meneliti kontribusinya. Bahkan, sebagian kitabnya sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan Inggris.
Nawawi memberi pesan bahwa ilmu yang ditulis dengan keikhlasan akan bertahan lintas zaman.
Di IFA.id, kami percaya, Syekh Nawawi al-Bantani adalah contoh nyata ulama Nusantara yang mendunia. Dari kampung kecil di Banten, ia menembus batas geografis, mengajar di Masjidil Haram, menulis ratusan kitab, dan melahirkan murid-murid yang jadi tokoh bangsa.
Kisah hidupnya adalah inspirasi bagi kita semua: bahwa ketekunan, ilmu, dan keikhlasan bisa mengangkat derajat seseorang hingga dikenal di seluruh dunia.
Artikel Terkait
Perlawanan Intelektual Shaleh Darat lewat Tafsir
Tafsir Marah Labid: Warisan Syekh Nawawi yang Mendunia
Humanisme dalam Tafsir Syekh Nawawi al-Bantani
Tafsir An-Nur: Warisan Hasbi Ash-Shiddieqy untuk Indonesia
Jejak Tafsir Nusantara: Dari Shaleh Darat hingga Quraish Shihab