IFA.id- Kami percaya bahwa setiap generasi memiliki sosok yang menjadi jembatan antara ilmu, iman, dan peradaban. Dari sebuah kampung kecil bernama Tanara, Serang, Banten, lahirlah seorang anak yang kelak dikenang sebagai ulama besar dunia: Syekh Nawawi al-Bantani.
Nama beliau bukan hanya dikenal di Nusantara, melainkan juga di Mekkah, Mesir, Turki, India, hingga Afrika. Julukan yang melekat padanya adalah Sayyidul Ulama al-Hijaz, pemimpin para ulama di Tanah Suci. Sebutan ini bukan sembarangan, melainkan pengakuan dunia Islam terhadap keluasan ilmunya.
Namun, siapa sangka, perjalanan agung itu dimulai dari tanah kampung yang sederhana, di tepi Sungai Cidurian, di mana Nawawi kecil tumbuh dengan tradisi pesantren dan kehidupan religius.
Baca Juga: Humanisme dalam Tafsir Syekh Nawawi al-Bantani
Masa Kecil: Didikan Keluarga Ulama
Syekh Nawawi lahir pada tahun 1813 M. Ayahnya, KH Umar bin Arabi, adalah seorang penghulu di daerah Tanara. Sejak kecil, Nawawi sudah terbiasa melihat aktivitas keagamaan. Lingkungan keluarga inilah yang menumbuhkan kecintaannya pada ilmu agama.
Sejarawan mencatat, Nawawi kecil sudah akrab dengan kitab kuning saat masih belia. Ia belajar dasar-dasar Al-Qur’an, fikih, dan bahasa Arab dari ayahnya sebelum kemudian melanjutkan ke berbagai pesantren di Jawa.
Ketekunan inilah yang membuat Nawawi menonjol. Saat teman-temannya masih bermain, ia lebih suka mengulang hafalan, membaca kitab, dan berdiskusi dengan guru. Sejak dini, tanda-tanda kebesarannya sudah tampak.
Perjalanan ke Tanah Suci: Santri Nusantara di Mekkah
Kehausan Nawawi pada ilmu tidak berhenti di tanah Jawa. Ia berangkat ke Mekkah untuk menimba ilmu lebih dalam. Bayangkan, di abad ke-19, perjalanan laut dari Jawa ke Mekkah bukanlah hal mudah. Namun semangatnya menembus segala rintangan.
Di Mekkah, Nawawi berguru kepada banyak ulama besar, termasuk Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, seorang ulama Nusantara yang juga masyhur di Masjidil Haram. Di majelis ilmu itu, Nawawi muda dikenal tekun, rajin, dan memiliki daya ingat kuat.
Tak lama kemudian, ia dipercaya mengajar. Dari santri, ia menjelma menjadi guru. Majelisnya di Masjidil Haram dihadiri murid dari berbagai bangsa: Mesir, India, Turki, hingga Afrika Utara. Dari sinilah namanya semakin harum.
Produktivitas Ilmu: Kitab yang Menembus Zaman
Artikel Terkait
Perlawanan Intelektual Shaleh Darat lewat Tafsir
Tafsir Marah Labid: Warisan Syekh Nawawi yang Mendunia
Humanisme dalam Tafsir Syekh Nawawi al-Bantani
Tafsir An-Nur: Warisan Hasbi Ash-Shiddieqy untuk Indonesia
Jejak Tafsir Nusantara: Dari Shaleh Darat hingga Quraish Shihab