IFA.id- Di era ketika kitab tafsir masih didominasi bahasa Arab dan Jawa Pegon, seorang ulama Aceh menghadirkan terobosan baru: menulis tafsir al-Qur’an dalam bahasa Indonesia. Dialah Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, dengan karya monumentalnya, Tafsir An-Nur. Sebuah karya yang menjadi jembatan antara ilmu tafsir dan masyarakat modern.
Hasbi Ash-Shiddieqy lahir di Lhokseumawe, Aceh Utara, tahun 1904. Ia tumbuh dalam tradisi keilmuan Islam yang kuat, lalu menekuni fikih, hadis, dan tafsir. Sepanjang hidupnya, Hasbi menulis lebih dari 70 buku, mulai dari ilmu hadis, fiqih, hingga tafsir.
Namun, dari sekian banyak karyanya, Tafsir An-Nur menjadi tonggak penting. Kitab ini ditulis dalam bahasa Indonesia, dengan gaya akademis sekaligus populer. Tujuannya jelas: agar masyarakat luas—yang tidak menguasai bahasa Arab—dapat memahami pesan al-Qur’an dengan baik.
Mengapa Tafsir An-Nur Penting?
Ada beberapa alasan mengapa tafsir ini istimewa:
Baca Juga: Humanisme dalam Tafsir Syekh Nawawi al-Bantani
1. Bahasa Indonesia sebagai Medium
Untuk pertama kalinya, tafsir ditulis dengan bahasa nasional, bukan Arab atau Jawa Pegon. Ini membuka akses luas bagi umat Islam Indonesia.
2. Kontekstual
Tafsir An-Nur tidak hanya mengurai makna ayat, tetapi juga menghubungkannya dengan persoalan sosial-politik Indonesia saat itu.
3. Gaya Akademis
Sebagai dosen di IAIN Sunan Kalijaga, Hasbi menulis dengan struktur ilmiah yang rapi, cocok untuk mahasiswa dan peneliti, tetapi tetap bisa dinikmati masyarakat umum.
Dalam menafsirkan ayat-ayat tentang keadilan sosial, Hasbi menekankan pentingnya membangun masyarakat Indonesia yang berkeadilan dan sejahtera. Ia menolak tafsir yang semata-mata tekstual, dan mengajak umat memahami al-Qur’an sebagai panduan kehidupan bermasyarakat.
Hasbi juga menyoroti ayat-ayat tentang musyawarah (syura), yang menurutnya sangat relevan dengan demokrasi Indonesia. Tafsir ini menampilkan wajah Islam yang ramah, terbuka, dan modern.
Baca Juga: Tafsir Marah Labid: Warisan Syekh Nawawi yang Mendunia
Tafsir untuk Indonesia Modern
Jika tafsir Shaleh Darat adalah perlawanan kolonial, dan tafsir Nawawi mendunia lewat bahasa Arab, maka tafsir Hasbi adalah perlawanan intelektual terhadap keterbatasan bahasa.
Dengan menulis dalam bahasa Indonesia, Hasbi melakukan “demokratisasi tafsir”. Ia tidak ingin al-Qur’an hanya menjadi milik kalangan pesantren atau akademisi Arab, tetapi juga bisa diakses masyarakat umum, termasuk mahasiswa, guru, dan aktivis.
Artikel Terkait
Bagaimana Islam Mengajarkan Mengatasi Kesepian?
Dampak Ghibah terhadap Kesehatan Mental dan Cara Menghindarinya
Mengatur Waktu dengan Baik dalam Islam untuk Mengurangi Stres
Kesehatan Mental dan Pola Makan dalam Islam: Hubungannya dengan Jiwa
Islamic Healing: Cara Islam Mengobati Luka Batin