Keberkahan yang lahir dari tindakan sederhana ini membuktikan bahwa sedekah bukan sekadar amal, tapi juga energi kebaikan yang menular.
Jumat, Hari Hati yang Dihidupkan
Mengapa Jumat terasa begitu istimewa untuk bersedekah?
Sosiolog agama dari UIN Jakarta, Dr. Ahmad Sulaiman, menjelaskan kepada IFA.id:
Baca Juga: Nilai Sosial Aqiqah: Menguatkan Ukhuwah dan Rasa Syukur
“Jumat adalah hari komunitas. Saat orang berkumpul di masjid, interaksi sosial meningkat. Sedekah di hari ini bukan hanya ibadah vertikal, tapi juga momentum membangun empati sosial.”
Faktanya, berdasarkan survei yang dilakukan Dompet Dhuafa pada 2024, 68% masyarakat muslim Indonesia memilih hari Jumat sebagai waktu favorit untuk bersedekah. Angka itu meningkat 15% dibanding tahun sebelumnya.
Artinya, semangat “Jumat Berkah” tak lagi sekadar simbol, tapi sudah menjadi kebiasaan kolektif umat. Sebuah kebiasaan baik yang bisa menjadi fondasi peradaban sosial lebih berempati.
Teknologi dan Sedekah di Era Digital
Zaman berubah, tapi nilai kebaikan tetap abadi. Kini, sedekah Jumat tak harus menunggu kotak amal lewat di masjid. Dengan teknologi digital, siapa pun bisa menyalurkan donasi hanya lewat sentuhan jari.
Baca Juga: Aqiqah di Era Digital: Tren, Tantangan, dan Edukasi untuk Generasi Muslim Muda
IFA.id menemukan bahwa beberapa platform digital seperti Kitabisa, Rumah Zakat, dan BAZNAS Online mencatat lonjakan transaksi pada hari Jumat. Data dari Kitabisa tahun 2024 menunjukkan, donasi terbanyak masuk antara pukul 10.00–12.00 WIB, tepat sebelum waktu salat Jumat.
Namun, di balik kemudahan itu, muncul tantangan baru: bagaimana menjaga niat agar tetap ikhlas. Karena di era media sosial, sedekah seringkali disertai ekspos publik. Maka, menjaga niat menjadi bagian penting dari spiritualitas digital — memberi tanpa pamrih, meski dengan sistem modern.
Kisah Anak Penjual Es: Sedekah yang Berbalas Doa
IFA.id juga menemui kisah lain di Makassar. Seorang anak kecil bernama Rafi, penjual es kelapa di pinggir jalan, setiap Jumat selalu menyisihkan satu gelas untuk diberikan gratis kepada pengemis tua yang lewat. Suatu sore, sang pengemis berkata lirih, “Nak, semoga Allah balas dengan rezeki yang besar.”
Beberapa bulan kemudian, video kisah Rafi viral. Banyak warganet menggalang dana, hingga ia bisa berhenti berjualan dan kembali sekolah.
Bagi Rafi, berkah terbesar bukan uang donasi yang datang, tapi kesempatan untuk belajar lagi.